London Tuduh Putin Bertanggung Jawab atas Serangan Racun yang Tewaskan Warga Sipil

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Sebuah penyelidikan publik Inggris menyimpulkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin diduga berada di balik serangan racun saraf Novichok terhadap mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal, di Salisbury pada 2018.

Temuan tersebut menegaskan bahwa serangan yang mengguncang hubungan Rusia-Inggris itu merupakan operasi negara yang mendapat restu dari level tertinggi Kremlin.

- Advertisement -

Ketua penyelidikan, mantan hakim Mahkamah Agung Inggris Anthony Hughes, dalam laporannya yang dirilis Jumat (5/12/2025), menyatakan meyakini bahwa tim intelijen militer Rusia (GRU) yang ditugaskan untuk membunuh Skripal tidak mungkin bergerak tanpa izin Putin.

“Saya menyimpulkan bahwa operasi pembunuhan Sergei Skripal pasti telah mendapat izin dari tingkat tertinggi, oleh Presiden Putin. Bukti bahwa ini adalah serangan negara Rusia sangat kuat,”ujar Hughes, dikutip dari Reuters.

Kronologi Serangan dan Korban Jiwa
Skripal dan putrinya, Yulia, ditemukan tak sadarkan diri di sebuah bangku di Salisbury pada Maret 2018, setelah Novichok racun saraf berkelas militer dioleskan pada gagang pintu rumahnya. Keduanya selamat, begitu pula seorang petugas polisi yang menangani kasus tersebut.

- Advertisement -

Namun empat bulan kemudian, Dawn Sturgess (44), warga sipil, meninggal dunia setelah tanpa sengaja terpapar Novichok dari botol parfum palsu yang dibuang pelaku. Penyelidikan menemukan bahwa racun dalam botol itu cukup untuk membunuh ribuan orang.

Hughes menilai para pelaku serta atasan mereka di GRU bertindak “sangat sembrono”, dan menyatakan Putin memikul tanggung jawab moral atas kematian Sturgess.

Respons Rusia
Pemerintah Rusia kembali membantah keras kesimpulan penyelidikan tersebut. Kedutaan Besar Rusia di London mengatakan pihaknya telah mendatangi.

Kementerian Luar Negeri Inggris untuk “menolak tuduhan yang tidak berdasar dan tidak masuk akal”.

Moskow menyebut laporan itu sebagai bentuk propaganda anti-Rusia dan menuding London berusaha mengganggu proses negosiasi damai terkait perang Rusia-Ukraina.

Dakwaan dan Sanksi Baru
Polisi Inggris telah mendakwa tiga anggota GRU secara in absentia.

Pada hari yang sama, Pemerintah Inggris mengumumkan sanksi tambahan terhadap lembaga intelijen militer Rusia serta memanggil duta besar Rusia atas apa yang disebut sebagai

“kampanye aktivitas permusuhan berkelanjutan”.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan sikap negaranya. “Inggris akan selalu menentang rezim brutal Putin dan mengecam mesin pembunuhnya,” tegasnya.

Ketegangan Moskow–London Terus Meningkat
Serangan di Salisbury pada 2018 memicu pengusiran diplomat terbesar antara Rusia dan Barat sejak era Perang Dingin. Ketegangan semakin meningkat setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, di mana Inggris menjadi salah satu negara pemberi bantuan militer terbesar untuk Kyiv.

Sementara itu, dua tersangka Rusia yang dituduh meracuni Skripal sebelumnya muncul di televisi Rusia mengklaim bahwa mereka hanyalah “turis biasa”. Ketiganya membantah tuduhan meski diadili secara in absentia.

Laporan Lanjutan dan Pola Serangan
Penyelidikan ini menjadi yang kedua menyatakan Putin kemungkinan besar mengotorisasi serangan terhadap individu yang dianggap musuh negara di wilayah Inggris. Pada 2016, penyelidikan terpisah menyimpulkan bahwa Putin kemungkinan memerintahkan pembunuhan Alexander Litvinenko dengan polonium radioaktif.

Laporan terbaru menyebut serangan terhadap Skripal bukan hanya aksi balas dendam, melainkan pernyataan tegas Rusia untuk menunjukkan kekuatan dan kemampuannya bertindak demi kepentingan negara.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Kuota Haji NTB Bertambah Jadi 5.798 Jamaah

JCCNetwork.id- Kuota haji Provinsi Nusa Tenggara Barat pada musim haji tahun ini mengalami peningkatan signifikan. Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) NTB mencatat...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER