JCCNetwork.id- Jumlah korban jiwa dalam tragedi ledakan kapal tanker MT Federal II di galangan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batam, Kepulauan Riau, kembali bertambah. Data terbaru menyebutkan, hingga Kamis malam (16/10/2025), total korban meninggal dunia mencapai 11 orang.
Korban terbaru diketahui bernama Roni Andries Harefa, seorang pekerja yang sempat menjalani perawatan intensif di RS Mutiara Aini Batam. Roni menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 14.20 WIB, setelah hampir dua hari berjuang melawan luka bakar serius mencapai 53 persen.
“Tim medis sudah berupaya maksimal dengan berbagai tindakan seperti pemasangan ventilator, pemberian oksigen, hingga operasi. Namun luka bakar yang dialami korban sangat parah,” ujar Lia Ambarwati, Manajer Humas RS Mutiara Aini, Kamis malam.
Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah korban langsung dipindahkan ke RS Bhayangkara Polda Kepri untuk proses autopsi dengan pendampingan pihak keluarga.
Di tengah duka mendalam, keluarga korban melaporkan PT ASL Shipyard ke pihak kepolisian. Mereka menuntut adanya pertanggungjawaban hukum dan penyelidikan transparan atas insiden maut yang menewaskan belasan pekerja tersebut.
“Kami hanya ingin keadilan. Jangan sampai kejadian seperti ini dianggap biasa dan dilupakan begitu saja,” ujar Siti, 33, salah satu keluarga korban di RS Mutiara Aini.
Pihak keluarga juga mengeluhkan minimnya komunikasi dari perusahaan sejak peristiwa ledakan terjadi. Hingga kini, penyebab pasti ledakan di kapal MT Federal II belum dijelaskan secara resmi oleh manajemen.
Sementara itu, pihak PT ASL Shipyard belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan penyelidikan maupun penanganan para korban. JCCNetwork.id telah mencoba menghubungi perwakilan perusahaan, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan.
Insiden ledakan di kapal tanker MT Federal II terjadi di area galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, pada Selasa siang (14/10/2025). Ledakan tersebut terjadi saat proses perawatan rutin dilakukan, dan menyebabkan puluhan pekerja mengalami luka-luka serta kerusakan berat pada bagian lambung kapal.
Tim gabungan dari kepolisian, Basarnas, dan Dinas Tenaga Kerja Batam masih terus melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab utama ledakan serta evaluasi standar keselamatan kerja di lingkungan galangan kapal tersebut.














