JCCNetwork.id- Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia 98 (JARI 98), Willy Prakarsa, menyoroti ukuran keberhasilan dan kegagalan seorang pemimpin negara. Baginya tolak ukur itu sederhana, yakni dengan bertanya langsung kepada rakyat yang menjadi penghuni negara tersebut.
Rakyat saat ini semakin cerdas dan memiliki prinsip kuat. Ia menegaskan bahwa rakyat bukan hanya berdaulat, tetapi juga menjadi penyumbang terbesar bagi negara melalui kewajiban membayar pajak yang menopang jalannya roda pemerintahan.
“Rakyat sekarang cerdas dan miliki prinsip, rakyat selain berdaulat juga penyumbang terbesar buat negara sebagai ‘sapi perahan wajib pajak’ agar roda pemerintahan dapat berjalan mulus,” tulis Willy Prakarsa dalam akun X dikutip, hari ini.
Rabu (27/8/2025).

Ia juga menekankan bahwa rakyat mampu membedakan pemimpin yang benar-benar pintar dengan yang justru memperumit keadaan. Menurutnya, rakyat menganggap orang pintar adalah mereka yang bisa membuat masalah sulit menjadi mudah dan dipahami banyak orang.
Sebaliknya, orang bodoh dianggap sebagai pihak yang justru membuat masalah sederhana menjadi rumit hingga membingungkan publik.
Lebih lanjut, Willy menyindir bahwa rakyat masih memiliki “urat malu” dan harga diri, berbeda dengan sebagian pemimpin serta lingkarannya yang dinilai telah kehilangan keduanya.
“Beruntung jadi rakyat, masih punya harga diri. Sementara pemimpin dan gerombolannya sudah tidak punya rasa malu dan kehilangan harga diri,” tegasnya.
Ia pun menutup dengan doa agar rakyat senantiasa mendapat perlindungan dari Allah SWT dalam menghadapi kondisi pemerintahan dan kehidupan bernegara.
“Semoga Allah Swt melindungi semua rakyat yg hidup di kolong langit ini dalam suatu negara di belahan dunia Internasional,Amin YRA,” tulisnya.



