JCCNetwork.id-Tiga makam tokoh penting dari era Kesultanan Aceh Darussalam ditemukan dalam kegiatan gotong royong pembersihan situs sejarah (meuseuraya) yang digelar oleh Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) di Gampong Jawa, Banda Aceh, Minggu (17/8/2025).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB itu turut dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Aceh, Drs. Aidi Kamal, MM, dan Ketua Silaturrahim Alumni Timur Tengah (SILA), Muammar Farisi.
Dalam proses pembersihan, tim peneliti Mapesa yang terdiri atas Ustadz Ridha, Ustadz Mutawalli, dan Ketua Mapesa Aceh, Mizuar Mahdi, berhasil menemukan tiga batu nisan yang mengindikasikan keberadaan makam tokoh berpengaruh dalam sejarah Kesultanan Aceh.
Identifikasi sementara dilakukan melalui pembacaan epigraf pada nisan.
Ketua DMDI Aceh, Aidi Kamal, menyampaikan apresiasinya atas temuan tersebut.
Ia menyebut penemuan itu sebagai bukti hubungan erat antara Aceh dan dunia Melayu dalam menghadapi penjajahan Barat di masa lalu.
“Aceh dan Melayu sejak dahulu saling tolong menolong menghadapi Portugis dan Belanda. Sayangnya, banyak nisan penting tertimbun akibat tsunami, sehingga diperlukan langkah bersama menyelamatkan khazanah Islam-Melayu ini,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua SILA, Muammar Farisi, menilai temuan ini sebagai warisan sejarah yang tak ternilai.
“Ini bukti peradaban Islam di Asia Tenggara. Situs sejarah Kesultanan Aceh Darussalam harus dijaga agar dapat menjadi pelajaran berharga bagi generasi kini dan masa mendatang,” tegasnya.
Ia menegaskan pentingnya perlindungan terhadap situs-situs peninggalan Kesultanan Aceh sebagai bagian dari peradaban Islam di Asia Tenggara.
Mapesa menyatakan komitmennya untuk terus melakukan pelestarian dan penelitian terhadap situs-situs sejarah di Aceh.
Organisasi ini menilai upaya pelestarian makam tokoh penting merupakan langkah strategis dalam menjaga identitas dan peradaban Islam di Nusantara.
























