Cuaca Tak Menentu, Cabai Masih Mahal

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Setelah sempat melambung tinggi akibat faktor cuaca dan panen yang kurang optimal, harga cabai merah di sejumlah wilayah Indonesia mulai menunjukkan tren penurunan. Meski begitu, harga komoditas ini masih belum kembali ke tingkat yang diharapkan sesuai dengan harga acuan pemerintah sebesar Rp 55.000 per kilogram (kg).

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa meskipun harga sudah mulai bergerak turun, fluktuasi masih terjadi di beberapa daerah. Salah satu contoh penurunan harga dapat ditemukan di Pasar Klender, Jakarta.

- Advertisement -

Saat ini, harga cabai merah di pasar tersebut berada di kisaran Rp 66.000 per kg, turun drastis dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 100.000 per kg.

“Cabai sebenarnya sudah mulai turun, di Pasar Klender sekarang Rp 66.000, dahulu sempat Rp 100.000. Sementara itu harga acuan Rp 55.000, ini mungkin karena cuaca dan panen belum semua bisa,” ujar Mendag Budi Santoso di kantor Kemendag, Jakarta (5/2/2025).

Meskipun ada penurunan harga di Jakarta dan beberapa daerah lainnya, fluktuasi harga cabai merah masih cukup besar di berbagai wilayah. Di Pekanbaru, Riau, misalnya, harga cabai merah masih tinggi, mencapai Rp 90.000 per kg akibat tingginya permintaan dan terbatasnya pasokan dari daerah penghasil. Sementara itu, di Banda Aceh, harga cabai merah masih berada di kisaran Rp 60.000 per kg.

- Advertisement -

Sebaliknya, di Blitar, Jawa Timur, harga cabai justru jauh lebih murah. Di wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi cabai ini, harga cabai merah hanya sekitar Rp 30.000 per kg, lebih rendah dari harga acuan pemerintah.

Mendag menjelaskan bahwa stabilitas harga di Blitar disebabkan oleh ketersediaan stok yang melimpah, mengingat daerah ini merupakan salah satu pemasok utama cabai ke berbagai wilayah di Indonesia.

“Di Blitar malah lebih murah, karena semua produk ada di sana. Harga cabai sekitar Rp 30.000. Harusnya sebentar lagi normal,” kata Mendag Budi Santoso terkait harga cabai yang dipengaruhi cuaca dan panen.

Menurut Mendag, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan lonjakan harga cabai merah belakangan ini. Pertama, cuaca ekstrem yang melanda berbagai daerah. Hujan lebat yang terjadi di sejumlah wilayah produksi menyebabkan terganggunya proses budidaya cabai, yang berimbas pada berkurangnya hasil panen.

Kedua, panen yang tidak optimal. Beberapa daerah mengalami keterlambatan panen akibat cuaca yang tidak mendukung, sehingga stok cabai di pasar menjadi terbatas dan menyebabkan harga melonjak.

Ketiga, gangguan distribusi. Pasokan cabai dari daerah penghasil mengalami kendala logistik akibat cuaca buruk dan keterbatasan transportasi, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan distribusi di berbagai wilayah.

Keempat, meningkatnya permintaan menjelang bulan Ramadan 2025. Tradisi konsumsi cabai yang tinggi selama bulan puasa membuat permintaan meningkat drastis, sementara pasokan belum sepenuhnya stabil.

Menghadapi situasi ini, pemerintah terus berupaya menstabilkan harga cabai merah agar masyarakat tidak terbebani. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memastikan kelancaran distribusi dari daerah sentra produksi ke daerah yang mengalami kelangkaan.

Selain itu, pemerintah juga bekerja sama dengan petani untuk meningkatkan hasil panen agar pasokan tetap terjaga. Dengan berbagai upaya ini, diharapkan harga cabai merah bisa kembali normal dalam waktu dekat dan tidak mengalami lonjakan signifikan saat memasuki bulan Ramadan.

Dengan kondisi harga yang masih beragam di berbagai daerah, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam berbelanja dan memantau perkembangan harga cabai di pasar. Pemerintah juga meminta para pedagang dan distributor untuk tidak mengambil keuntungan berlebihan agar stabilisasi harga bisa berjalan lebih cepat.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Banjir Rendam 657 Rumah di Kendari

JCCNetwork.id- Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menyebabkan ratusan rumah warga terendam dan ribuan masyarakat terdampak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER