PDIP Tinggalkan Kader

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Lisa Umumkan EP Solo Terbaru

Ruben Onsu Terseret Kasus Investasi

Sarwendah Minta Peran Ruben

Oleh: Odorikus Holang

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Manggarai Timur (Matim) membuat keputusan yang menyayat hati para simpatisan. Pasalnya, partai berlambang banteng itu mengusung sosok birokrat aktif yang belum mengundurkan diri.

- Advertisement -

Dia adalah Elpy Tote yang adalah anak mantan Bupati Matim, Yosep Tote. Mungkin jiwa politik Elpy merupakan titisan dari sang ayah sehingga tak heran kalau berani mengambil keputusan dengan keluar dari zona nyaman Aparatur Sipil Negara (ASN).

Namun kehadiran Elpy dalam panggung politik Manggarai Timur membuat PDIP goyah. Bahkan tinggalkan kader sendiri. Meskipun rekomendasi belum final. Padahal, PDIP salah satu partai yang meraih suara terbanyak pada pemilihan legislatif (Pileg) 2024. PDIP berhasil mendapat lima kursi.

Akan tetapi PDIP diduga tidak percaya diri untuk mengusung kader biologis dan ideologisnya. Padahal, PDIP merupakan salah satu partai yang konsisten percaya dengan kader sendiri setiap perhelatan Pilkada.

- Advertisement -

Ada apa gerangan dengan PDIP Matim? Apakah persediaan kader yang ada tidak bisa bertarung merebut tampuk kekuasaan Matim satu dengan mandiri? Apakah sudah lelah atau mau meninggalkan nilai-nilai yang diperjuangkan para senior partai?

Beberapa pertanyaan reflektif di atas hanya ditujukan kepada Kader PDIP yang telah membesarkannya di Matim. Sebab, PDIP Matim harus berani mengoreksi diri dan melihat lembaran sejarah perjuangan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum pada 27 Juli 1996 silam.

Peristiwa yang disebut Kudatuli itu merupakan salah satu sejarah kelam dalam perjalanan politik di Indonesia. Insiden itu menewaskan 5 orang dan menyebabkan 149 orang luka-luka serta 23 orang dinyatakan hilang. Peristiwa kudatuli ini merupakan sebuah gambaran tentang hidup matinya sebuah perjuangan sang pejuang.

Apalagi PDIP mempunyai sekolah partai untuk para kadernya supaya tetap setiap dalam jalur perjuangan baik melalui kendaraan legislatif maupun eksekutif. Lantas, mengapa PDIP Matim keluar dari pakem itu?

Apa artinya sebuah perjuangan kalau lelahnya tak dinikmati sendiri?. Kader PDIP Matim sejatinya konsisten dengan garis perjuangan itu. Apapun tantangannya harus dilewati bersama sampai garis finis.

Mengutip kata-kata Soekarno yang adalah ayah biologis Ketum PDIP “Jangan sekali-kali melupakan sejarah alias jas merah”. Merah api perjuangan jangan sampai padam hanya demi kepentingan sesaat. Sebab PDIP lahir dari buah perjuangan darah dan air mata.

Salam Perjuangan
Salam Pancasila

Odorikus Holang
Jurnalis Politik dan Hukum di Jakarta

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Gus Kikin Resmi Pimpin PBNU 2026-2031

JCCNetwork.id- KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026-2031. Penetapan tersebut dilakukan melalui...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER