Keputusan Biden Soal Senjata Ukraina Picu Eskalasi Konflik

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Analis veteran Kementerian Pertahanan Amerika Serikat Karen Kwiatkowski, mengungkapkan bahwa kericuhan politik di Washington terungkap melalui laporan keputusan Presiden Joe Biden yang mengizinkan Ukraina menggunakan senjata dari AS untuk menyerang Rusia.

“Pemerintahan Biden berdoa agar Ukraina dapat melanjutkan perlawanan hingga awal November (jadwal Pilpres AS),” kata Kwiatkowski kepada Sputnik, Minggu (2/6/2024).

- Advertisement -

Biden telah memutuskan untuk mengizinkan pemerintahan Kiev di bawah Volodymyr Zelenskyy menggunakan senjata yang dipasok AS untuk menyerang sasaran di Rusia.

Keputusan tersebut, menurut Kwiatkowski, mencerminkan ketakutan Biden dan para pejabat tinggi lainnya bahwa Ukraina bisa benar-benar runtuh sebelum pemilihan presiden AS pada 5 November.

Karena itu, Biden sangat ingin mempertahankan Ukraina setidaknya hingga pemilu, bahkan jika itu berarti mengambil risiko konfrontasi termonuklir dengan Rusia.

- Advertisement -

“Kekacauan, disorganisasi, dan frustrasi politik ini terlihat jelas dan semakin meningkat ketika koalisi negara-negara Barat yang lemah secara militer dan ekonomi berada di ambang perang proksi melawan kekuatan nuklir,” ucapnya.

Meskipun demikian, perubahan kebijakan yang dilaporkan Biden ini dianggap sangat berbahaya, tidak hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi seluruh dunia.

“Pergeseran dalam kebijakan Biden mengenai penggunaan senjata AS oleh Ukraina di Rusia, di sekitar Kharkov untuk saat ini bersifat eskalasi. Hal ini akan melibatkan militer Rusia juga, untuk segera mengakhiri perang ini melalui kekerasan, bukan negosiasi,” tuturnya.

Biden mengharapkan Ukraina akan memberinya kemenangan perang dalam waktu kurang dari setahun setelah konflik ini meletus pada Februari 2022, didukung oleh bantuan militer besar-besaran dari AS kepada Kiev di bawah Zelenskyy.

Presiden AS tersebut juga mengabaikan upaya Rusia untuk mencapai penyelesaian damai melalui negosiasi.

Lebih lanjut, Kwiatkowski menyebutkan bahwa Biden merasa frustrasi karena apa yang seharusnya menjadi demonstrasi kekuatan dan penilaian bagi partainya, malah membuat dirinya dan partainya menjadi tidak populer.

“Selain itu, inflasi yang tinggi dan perekonomian yang stagnan serta kekalahan dalam perang cenderung berakibat fatal secara politik bagi seorang presiden AS yang menjalankan kepemimpinannya,” tambah Kwatlowski.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Garuda Tekuk Mozambik 1-0 di GBK

JCCNetwork.id- Timnas Indonesia menutup rangkaian pertandingan FIFA Matchday periode Juni 2026 dengan hasil sempurna setelah mengalahkan Mozambik dengan skor tipis 1-0 di Stadion Utama...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER