JCCNetwork.id – Paus Fransiskus, yang memimpin umat Katolik Roma dalam merayakan Natal, mengungkapkan keprihatinan mendalamnya atas logika perang yang masih merajalela di tanah tempat Yesus dilahirkan. Dalam Misa Malam Natal di Basilika Santo Petrus, Paus berusia 87 tahun itu menyampaikan pesan perdamaian dan cinta, sambil menyesalkan bahwa pesan tersebut kini terkubur oleh konflik bersenjata.
“Malam ini, hati kita ada di Bethlehem, di mana sang Pangeran Perdamain sekali lagi ditolak oleh logika perang yang sia-sia, oleh bentrokan senjata yang bahkan sampai hari ini menghalanginya untuk menemukan ruang di dunia ini,” ucap Paus Fransiskus.
Pernyataan Paus tersebut datang beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersumpah untuk terus melanjutkan perang di wilayah kantong Palestina di Gaza. Pasukan Israel baru saja mengalami kekalahan terburuk dalam perang darat, menambah ketegangan di kawasan tersebut.
Menteri Pariwisata Palestina, Rula Ma’ayah, menyatakan bahwa “Bethlehem merayakan Natal dengan kesedihan dan duka atas apa yang terjadi di Gaza, dan di seluruh Tepi Barat, seluruh wilayah Palestina.”
Dalam khutbahnya, Paus Fransiskus mengajak umat Katolik untuk tidak terobsesi dengan kesuksesan duniawi dan menghindari “penyembahan konsumerisme.” Ia menyoroti lingkaran destruktif dalam sejarah manusia yang dipenuhi dengan pencarian kekuatan duniawi, ketenaran, dan kemuliaan.
Meskipun kondisi dunia saat ini mungkin membuat sulit merayakan Natal, Paus mengingatkan umat bahwa “malam ini, cinta mengubah sejarah.”
Paus Fransiskus, yang telah beberapa kali memohon agar gencatan senjata tercapai di Gaza, juga mengajak pembebasan semua sandera yang ditahan oleh kelompok perlawanan Palestina. Konflik antara Israel dan kelompok seperti Hamas dan Jihad Islam telah menyebabkan ratusan kematian dan ribuan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Pada Senin siang, Paus Fransiskus akan menyampaikan pesan dan berkah Hari Natal “Urbi et Orbi” kepada masyarakat kota dan dunia, dengan harapan agar pesan perdamaian Natal dapat menginspirasi perubahan positif di tengah ketegangan global.



