JCCNetwork.id- Kelompok Islamofobia Pegida kembali membuat kontroversi dengan tindakan provokatif. Pekan lalu, pemimpin Pegida, Edwin Wagensveld, melakukan aksi merobek kitab suci Al-Qur’an di depan sejumlah kedutaan besar (kedubes) di Den Haag, Belanda. Yakni di depan Kedubes Turki, Indonesia, dan Pakistan.
Ironisnya, setelah melakukan aksi kontroversial ini, Edwin Wagensveld mengungkapkan terima kasih kepada polisi Belanda yang telah melindunginya selama tindakannya.
Ini bukan kali pertama Edwin Wagensveld melakukan tindakan serupa yang menodai kitab suci umat Islam. Bulan Agustus sebelumnya, ia juga merobek halaman dari kitab Al-Qur’an dan membuangnya di depan Kedubes Turki.
Namun, perlu dicatat bahwa tindakan provokatif ini tidak luput dari respons negatif. Dubes Turki di Belanda, Selcuk Unal, dengan tegas mengutuk serangan terhadap Al-Qur’an dan berharap agar tindakan semacam ini tidak terulang lagi. Selcuk Unal bahkan secara pribadi memperbaiki salinan Al-Qur’an yang dirusak, dan mengungkapkan niatnya untuk menjaganya di kedutaan besar mereka sebagai tanda peringatan.
Dalam upaya mencegah tindakan serupa di masa depan, Kedubes Turki telah berkomunikasi dengan semua pihak berwenang di Belanda. Ini merupakan langkah untuk memastikan bahwa ketenangan dan toleransi dijaga, meskipun tindakan seperti ini dapat menciptakan ketegangan di antara masyarakat.
Edwin Wagensveld juga terlibat dalam insiden serupa di Den Haag pada 22 Januari 2023, ketika ia melancarkan aksinya secara sendiri. Pada 13 Februari, ia juga melakukan tindakan serupa di Kota Utrecht. Selama periode ini, Edwin Wagensveld pernah ditahan oleh polisi saat hendak menghadapi kelompok Muslim yang melakukan demonstrasi tandingan di Rotterdam.



