Pemungut Cukai yang Dilirik Yesus, Kisah Inspiratif Matius dalam Perjalanan Iman

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Matius, salah satu murid Yesus dan penulis Injil yang terkenal, memiliki latar belakang yang dipandang sebelah mata. Sebagai seorang pemungut cukai di Kapernaum, Galilea, ia berasal dari kelompok yang dianggap hina dan tidak terhormat dalam masyarakat Yahudi pada saat itu.

Pekerjaan sebagai pemungut cukai dikaitkan dengan penjajahan Romawi dan dianggap sebagai jabatan kotor serta dihina oleh pemimpin-pemimpin Yahudi.

- Advertisement -

Namun, pandangan negatif terhadap Matius tidak mengurangi nilai yang dimiliki olehnya di mata Yesus. Ketika Yesus memanggilnya dengan kata-kata “Ikutilah Aku!”, panggilan tersebut menunjukkan bahwa Yesus melihat potensi kebaikan dalam Matius.

Panggilan ini mengejutkan banyak orang, karena Yesus memilih untuk mengikutsertakan seorang pendosa seperti Matius menjadi murid-Nya. Saat Matius mengadakan jamuan besar di rumahnya untuk Yesus dan murid-murid-Nya, banyak pemungut cukai lainnya turut hadir.

Hal ini semakin memicu kebencian orang-orang seperti golongan Farisi terhadap Yesus, yang mengkritik kehadiran-Nya di tengah-tengah orang-orang berdosa.

- Advertisement -

Namun, Yesus dengan tegas menyatakan, “Bukan orang yang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang yang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang yang benar, melainkan orang berdosa.”

Tanpa ragu, Matius segera bangkit dan mengikuti Yesus, meninggalkan kekayaan materi yang dimilikinya. Ia dengan sukarela memulai kehidupan baru bersama Yesus dan murid-murid-Nya.

Sikap tegas Matius menunjukkan bahwa ia memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan Kerajaan Allah, seperti semangat dalam kemiskinan dan pelayanan, serta cinta dan iman kepada Yesus.

Matius adalah seorang yang terpelajar, mahir dalam berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Aramik, yang merupakan dialek Ibrani. Namun, sedikit yang diketahui tentang riwayat hidupnya sebelum dan setelah dipanggil oleh Yesus.

Menurut tradisi lisan purba, setelah Yesus naik ke surga, Matius mewartakan Injil dan berkarya di tengah kaum sebangsanya: orang-orang Kristen keturunan Yahudi di Palestina atau Siria selama kira-kira 15 tahun.

Selama itulah ia menulis Injilnya yang berisi pengajaran agama dan kesaksian tentang Yesus kepada orang-orang Kristen keturunan Yahudi. Injilnya ditulis kira-kira antara tahun 50-65.

Dalam Injilnya, Matius menekankan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang telah dijanjikan oleh Allah dan yang telah dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama. Ia membuka Injilnya dengan menyajikan silsilah Yesus Kristus mulai dari Abraham hingga Maria, ibu Yesus. Dengan silsilah ini, Matius bermaksud menunjukkan dengan jelas kedudukan manusiawi Yesus dan peran-Nya sebagai Penyelamat yang terakhir dan dijanjikan oleh Allah. Itulah sebabnya, Matius sering dilambangkan dengan gambar ‘manusia bersayap’.

Setelah menyelesaikan penulisan Injilnya, Matius melakukan perjalanan ke timur, mengunjungi Makedonia, Mesir, Etiopia, dan Persia. Konon, ia mati sebagai seorang martir di Persia karena memberitakan Injil Yesus Kristus. [ Willibrodus Nafie ]

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Pajak Mobil Listrik Diperdebatkan

JCCNetwork.id- Polemik terkait pajak kendaraan listrik mencuat dalam beberapa hari terakhir, setelah muncul anggapan adanya kenaikan beban pajak yang berpotensi berdampak pada harga jual...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER