JCCNetwork.id – Generasi milenial adalah kunci dari sebuah perubahan bagi daerah di Indonesia. Selain itu, milenial juga memiliki kekuatan yang besar untuk mengontrol, mengkritik, serta memberikan solusi terbaik demi pembangunan daerah yang maju berbasis inovatif.
Oleh sebab itu, menjelang kontestasi demokrasi Pemilu 2024 nanti, menjadi momentum yang tepat untuk generasi milenial mengevaluasi serta menentukan langkah perubahan baru bagi daerah dengan keikutsertaanya.
Hal tersebut disampaikan Hasan Bahta yang juga ikut mendaftarkan diri maju sebagai anggota DPRD Kabupaten Buru Selatan (Bursel) Dapil Waesama-Ambalau kepada awak media, Senin (5/6).
“Hal ini perlu kita sadari sebagai generasi milenial yang sangat berperan strategis dalam menentukan arah daerah lebih baik. Saya dan teman-teman semua adalah penentunya baik dengan kritiknya, saran, serta solusi yang lahir dari buah pikir generasi milenial,” ujar Hasan.
“Saya juga percaya, bahwa dengan peran aktif milenial akan lebih berarti dan memiliki pengaruh besar untuk kemajuan daerah, khsusnya di kabupaten saya yakni Buru Selatan,” tambahnya.
Selain itu, Hasan juga mengajak milenil agar tidak mudah terkecoh dengan politik yang cenderung mementingkan kepentingan kelompok dengan dalih demi rakyat banyak.
Ia mengingatkan agar milenial lebih arif atau bijaksana dalam menentukan pilihan. Sebab, menurutnya, pilihan itulah yang menjadi titik kemajuan atau kemunduran daerah itu sendiri.
“Pemilu hanya terlaksana 5 tahun sekali, pilihan yang diberikan adalah kesempatan terbaik. Jadi mari kita manfaatkan momentum pemilu nanti dengan arah pikir yang jernih dan bijak dalam memilih yang terbaik,” ucapnya.
Kendati juga ia mengajak generasi milenial agar tidak menjadi bagian dari upaya untuk memperovokasi sesama masyarakat.
Pasalnya, justru dengan kehadiran milenial adalah untuk memberikan penyadaran serta kedewasaan berdemokrasi dengan tidak saling hasut menghasut, provokasi antara sesama yang berujung konflik sosial, kebencian dan perpecahan.
“Ini yang saya kira penting, sebab kerap terjadi pada momentum demokrasi pemilu, milenial entah dengan kesadaran atau tidaknya selalu dijadikan alat untuk memprovokasi, saling adu-domba, hasut menghasut. Saya yakin bukan karena kesadaran nuraninya, melainkan atas dorongan kelompok tertuntu demi kepentingan tertentu, saya kira ini perlu kita sadari bersama,” pungkasnya.



