JCCNetwork.id – Harga minyak mentah dunia terkoreksi pada perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah harapan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun US$ 1,59 atau 1,38% menjadi US$ 113,73 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 2,09 atau 2,03% ke level US$ 100,69 per barel.
Koreksi tersebut terjadi setelah kedua acuan minyak itu mencatat penguatan pada perdagangan sebelumnya.
Brent naik 1,3%, sedangkan WTI menguat 3% pada Rabu (28/10/2026).
Sentimen pasar dipengaruhi laporan mengenai upaya Wakil Presiden AS JD Vance untuk membuka kembali jalur diplomasi dengan Teheran.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS dan sumber terkait, Vance berupaya mengirimkan surat kepada Mohsen Rezaei, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai langkah diplomatik tersebut memberikan tekanan terhadap harga minyak di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Harga minyak berada di bawah tekanan hari ini di tengah upaya diplomatik baru untuk meredakan konflik di Timur Tengah,” ujarnya.
Meski demikian, potensi penurunan harga lebih lanjut masih tertahan oleh ancaman terhadap fasilitas energi dan jalur distribusi minyak di kawasan tersebut.
Pasar juga memantau meningkatnya aktivitas militer kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, serta kemungkinan eskalasi konflik antara Washington dan Teheran.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang ditembakkan kelompok tersebut menuju wilayah timur Arab Saudi pada Kamis dini hari.
Analis Gelber and Associates menilai insiden itu menunjukkan risiko keamanan terhadap infrastruktur regional belum hilang meskipun upaya menghidupkan kembali perundingan terus berkembang.
“Pencegatan rudal Houthi lainnya oleh koalisi pimpinan Arab Saudi pada Kamis dini hari menunjukkan ancaman terhadap infrastruktur regional masih aktif meskipun dorongan untuk melanjutkan negosiasi kembali menguat,” tulis para analis dalam catatan mereka.
Di Yaman, pasukan pemerintah melaporkan serangan Houthi terhadap Bandara Aden.
Sebelumnya, kelompok tersebut juga mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke kilang minyak Ras Tanura, salah satu fasilitas pengolahan minyak utama Arab Saudi.
Ketegangan turut meningkat setelah Garda Revolusi Iran menyatakan tiga kapal tanker terkena ranjau laut, meledak, dan terbakar dalam kurun waktu 24 jam.
Menurut pernyataan tersebut, kapal-kapal itu mengalami insiden ketika mencoba melintasi jalur yang tidak diizinkan di bagian selatan Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar menghadapi dua sentimen yang berlawanan.
Peluang negosiasi AS-Iran berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik dalam harga minyak, sedangkan berlanjutnya serangan terhadap infrastruktur dan pelayaran energi tetap menjadi faktor yang dapat memicu volatilitas pasar.
























