JCCNetwork.id- Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Jambi belum mampu menghentikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Curah hujan yang masih rendah dan belum merata membuat upaya pemadaman oleh petugas gabungan terus dilakukan untuk mencegah api meluas ke wilayah lain.
Meski hujan mulai turun sejak akhir Oktober 2026, kondisi tersebut belum cukup efektif untuk memadamkan titik-titik api yang masih membakar kawasan hutan dan lahan. Petugas di lapangan tetap berupaya mengendalikan kebakaran dengan melakukan pemadaman langsung, termasuk ketika hujan ringan dan gerimis mengguyur lokasi terdampak.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, mengatakan hujan mulai terjadi pada dasarian III Oktober 2026. Namun, intensitasnya masih berada pada kategori ringan hingga sedang sehingga belum dapat diharapkan untuk mengatasi karhutla secara menyeluruh.
“Sudah terjadi di dasarian III Oktober 2026. Masih kategori hujan kecil, hujan sedang, nanti puncaknya terjadi Desember 2026,” ujar Darmadi di Jambi, Senin, 26 Oktober 2026.
Menurut Darmadi, peningkatan curah hujan diperkirakan berlangsung secara bertahap menjelang puncak musim hujan pada Desember 2026. Dengan kondisi tersebut, hujan yang turun saat ini belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan terhadap pemadaman kebakaran di kawasan hutan dan lahan yang masih terdampak.
Ia juga mengingatkan bahwa hujan yang terjadi berpotensi disertai angin. Meski demikian, kecepatan angin diprakirakan masih berada dalam kategori sedang.
“Saat terjadi hujan akan terjadi angin, tetapi kecepatan anginnya masih kategori sedang,” kata Darmadi.
Kondisi cuaca tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penanganan karhutla di Jambi. Selain memantau perkembangan hujan, petugas juga harus memastikan titik-titik api dapat dikendalikan agar tidak menjalar ke area hutan lainnya.
Sebelumnya, hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Jambi sejak Sabtu sore, 24 Oktober 2026, mulai membantu membasahi permukaan tanah dan mengurangi kepekatan kabut asap. Kendati demikian, manfaat hujan tersebut belum dirasakan secara merata, terutama di wilayah yang masih mengalami kebakaran.
Hujan ringan memang terpantau turun di sejumlah kabupaten, termasuk di sekitar kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang. Akan tetapi, kondisi tersebut belum mampu menghentikan seluruh aktivitas kebakaran yang masih berlangsung di kawasan konservasi tersebut.
Di tengah turunnya hujan, masyarakat juga masih perlu mewaspadai kondisi kualitas udara di Jambi. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat berada pada angka 110, yang termasuk kategori tidak sehat.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap masih menjadi perhatian meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah. Kondisi udara yang belum sepenuhnya membaik juga menjadi alasan pentingnya pemantauan kualitas udara secara berkala, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak karhutla.
Kategori ISPU tidak sehat menandakan bahwa kualitas udara berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu mengurangi paparan asap, khususnya ketika konsentrasi pencemar meningkat.
Sementara itu, upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang terus dilanjutkan oleh petugas gabungan. Personel dari Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla Jambi, Manggala Agni, TNI, Polri, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih berada di lapangan untuk mengendalikan kebakaran.
Petugas berjibaku memadamkan api di tengah kondisi gerimis. Penanganan dilakukan untuk memastikan kebakaran dapat segera dikendalikan sekaligus mencegah penjalaran api ke kawasan hutan dan lahan di sekitarnya.
Upaya tersebut tetap diperlukan karena turunnya hujan tidak selalu berarti api telah padam sepenuhnya. Pada area yang masih terbakar, petugas perlu memastikan titik api benar-benar terkendali agar kebakaran tidak kembali membesar ketika kondisi cuaca berubah.
Belum meratanya hujan juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam. Sementara sebagian wilayah mulai menerima hujan, kawasan lain masih membutuhkan penanganan langsung untuk mengatasi kebakaran yang belum berhasil dipadamkan.
Dengan perkiraan puncak musim hujan baru terjadi pada Desember 2026, penanganan karhutla di Jambi masih membutuhkan upaya berkelanjutan. Petugas gabungan terus berfokus pada pemadaman dan pengendalian api, sedangkan pemantauan cuaca serta kualitas udara tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak kebakaran.
Pemerintah dan unsur terkait diharapkan dapat terus memperkuat koordinasi di lapangan agar kebakaran di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang tidak meluas. Di sisi lain, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kabut asap yang masih berpotensi memengaruhi kesehatan selama kualitas udara belum kembali membaik.
























