JCCNetwork.id- Sejumlah sekolah di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mulai kembali menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) setelah sebelumnya menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kabut asap yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kembalinya aktivitas belajar di sekolah disambut antusias oleh para siswa dan tenaga pendidik. Meski demikian, pelaksanaan PTM masih dilakukan dengan sejumlah pembatasan karena kualitas udara di wilayah tersebut belum sepenuhnya pulih dan indeks standar pencemar udara (ISPU) masih berada dalam kategori tidak sehat.
Salah satu sekolah yang kembali membuka kegiatan belajar secara langsung adalah SMP Negeri 8 Palangka Raya. Pada hari pertama pelaksanaan PTM, pihak sekolah mengawali kegiatan dengan mengajak para siswa dan guru bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut dilakukan selama satu jam pelajaran pertama. Para siswa bersama dewan guru membersihkan ruang kelas dan area sekolah untuk menghilangkan sisa debu serta partikel yang diduga berasal dari paparan kabut asap karhutla selama beberapa waktu terakhir.
Langkah pembersihan ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam mempersiapkan lingkungan belajar yang lebih bersih dan nyaman sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung secara langsung.
Kepala SMPN 8 Palangka Raya, Erni Ningsih, menyambut baik kembalinya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Ia mengatakan, pembelajaran tatap muka telah lama dinantikan oleh para guru maupun siswa setelah mereka harus mengikuti kegiatan belajar dari rumah selama kabut asap menyelimuti wilayah Palangka Raya.
Menurut Erni, interaksi secara langsung antara guru dan siswa menjadi salah satu hal yang dirindukan selama penerapan PJJ. Kegiatan belajar di kelas dinilai memberikan kesempatan bagi tenaga pendidik dan peserta didik untuk kembali berinteraksi secara langsung dalam proses pembelajaran.
“Sangat senang sekali, karena bukan hanya guru, anak-anak dan peserta didik juga sangat merindukan pembelajaran tatap muka dibandingkan PJJ,” ucap Erni dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Kamis, 2026, dikutip.
Meski kegiatan belajar secara langsung telah kembali dilaksanakan, pihak sekolah tidak serta-merta menghapus seluruh pembatasan yang sebelumnya diberlakukan. Sekolah tetap mengutamakan kesehatan warga sekolah dengan menerapkan langkah pencegahan sesuai arahan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.
Salah satu ketentuan yang wajib dipatuhi adalah penggunaan masker bagi seluruh siswa dan tenaga pengajar selama berada di lingkungan sekolah. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap risiko gangguan pernapasan akibat paparan partikel polutan yang masih terdapat di udara.
Selain kewajiban menggunakan masker, kegiatan yang berlangsung di luar ruang kelas juga masih dibatasi. Aktivitas ekstrakurikuler untuk sementara belum diperbolehkan sampai kondisi udara dinilai lebih aman dan stabil.
Pembatasan tersebut dilakukan agar pemulihan kegiatan pendidikan tidak mengabaikan faktor keselamatan dan kesehatan siswa maupun tenaga pendidik. Pihak sekolah juga terus mengikuti perkembangan kondisi lingkungan sebagai dasar untuk menentukan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar selanjutnya.
Sementara itu, kondisi cuaca di Palangka Raya menunjukkan perkembangan setelah hujan sempat mengguyur wilayah tersebut. Berdasarkan pantauan di lapangan, hujan membantu mengurangi kepekatan kabut asap sehingga jarak pandang berangsur membaik.
Cuaca yang relatif cerah dengan suhu udara berkisar 28 hingga 29 derajat Celsius turut terlihat di wilayah tersebut. Namun, membaiknya jarak pandang belum sepenuhnya mencerminkan bahwa kualitas udara sudah berada dalam kondisi aman bagi masyarakat.
ISPU di Palangka Raya masih terpantau berada pada kategori tidak sehat dengan angka di kisaran 150-an. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran udara masih menjadi perhatian, terutama bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak polusi, termasuk anak-anak.
Situasi tersebut menjadi pertimbangan bagi pihak sekolah dalam menjalankan kembali kegiatan pendidikan secara bertahap. Aktivitas belajar di kelas tetap dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan, sedangkan kegiatan di luar ruangan masih menunggu perkembangan kualitas udara.
Pihak sekolah bersama otoritas pendidikan setempat terus memantau perubahan cuaca dan kondisi udara untuk menentukan langkah berikutnya. Pemantauan diperlukan agar keputusan mengenai pelaksanaan PTM tidak hanya mempertimbangkan kelancaran proses belajar mengajar, tetapi juga keselamatan seluruh warga sekolah.
Dengan demikian, kembalinya PTM di sejumlah sekolah di Palangka Raya menjadi langkah awal pemulihan aktivitas pendidikan setelah terganggu kabut asap karhutla. Namun, normalisasi seluruh kegiatan sekolah masih bergantung pada perkembangan kondisi lingkungan dan tingkat pencemaran udara di wilayah tersebut.
Sekolah diharapkan tetap menjalankan langkah pencegahan selama kualitas udara belum sepenuhnya membaik, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan tetap memperhatikan kesehatan para siswa dan tenaga pendidik.
























