JCCNetwork.id – Gerakan Intelektual Muda Indonesia Timur (GIMIT) mendorong seluruh elemen masyarakat untuk mendukung dan mengawal program revitalisasi sekolah di Indonesia Timur khususnya Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku. Program tersebut dinilai strategis dalam meningkatkan kualitas sarana pendidikan sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat lokal.
Ketua Bidang Kebijakan Publik Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Intelektual Muda Indonesia Timur (DPP GIMIT), Muhamad Aswan Kelian, mengatakan bahwa revitalisasi sekolah tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi siswa, tenaga pendidik, dan masyarakat di sekitar lokasi pembangunan.
Menurut Muhamad Aswan, revitalisasi sekolah merupakan bagian penting dari upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan melalui penyediaan fasilitas belajar yang layak, aman, dan nyaman. Karena itu, pelaksanaannya perlu mendapatkan dukungan sekaligus pengawasan dari seluruh elemen masyarakat agar berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Revitalisasi sekolah merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Karena itu, program ini harus kita dukung bersama dan dikawal secara objektif agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para siswa, tenaga pendidik, serta masyarakat sekitar,” ujar Muhamad Aswan Kelian. Senin, (26/10/2026).
Ia menjelaskan, program revitalisasi sekolah berpotensi memberikan sejumlah manfaat, baik dalam sektor pendidikan maupun perekonomian masyarakat. Dari sisi pendidikan, perbaikan fasilitas sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan menunjang kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu, dari sisi ekonomi, pelaksanaan pembangunan berpotensi membuka peluang bagi tenaga kerja lokal, penyedia bahan bangunan, pedagang, serta pelaku usaha di sekitar lokasi kegiatan, sepanjang pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Aktivitas pembangunan juga dapat meningkatkan permintaan terhadap berbagai kebutuhan pendukung, seperti transportasi, konsumsi, material bangunan, dan jasa lainnya. Dengan demikian, revitalisasi sekolah diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap perputaran ekonomi masyarakat setempat.
“Pembangunan pendidikan harus menjadi investasi jangka panjang bagi daerah. Kita berharap revitalisasi sekolah dapat meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan sekaligus memberikan peluang manfaat ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Timur,” jelasnya.
Di sisi lain, Aswan Kelian menegaskan bahwa pengawasan terhadap program pemerintah merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar setiap kritik dan gerakan kontrol sosial disampaikan berdasarkan fakta, data, serta argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, kritik yang objektif diperlukan untuk memastikan pelaksanaan program pembangunan berjalan sesuai aturan. Akan tetapi, penyampaian pendapat juga harus dilakukan secara proporsional agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Sebagai aktivis, kita memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan publik. Namun, gerakan yang dibangun harus berlandaskan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai narasi yang tidak berimbang justru merugikan nama baik daerah dan mengaburkan manfaat revitalisasi sekolah yang sedang berjalan di Kabupaten Seram Bagian Timur,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap program revitalisasi sekolah tidak berarti menutup ruang bagi kritik maupun pengawasan. Apabila terdapat dugaan penyimpangan dalam pelaksanaannya, persoalan tersebut harus ditindaklanjuti melalui mekanisme yang berlaku dengan tetap menghormati asas praduga tak bersalah dan proses hukum.
Lebih lanjut, GIMIT mengajak pemerintah daerah, pihak sekolah, masyarakat, pemuda, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat sipil untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan revitalisasi sekolah di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Pengawasan tersebut, menurut Aswan, perlu mencakup kualitas pekerjaan, kesesuaian pelaksanaan dengan ketentuan, penggunaan anggaran, serta manfaat pembangunan bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan revitalisasi sekolah tidak cukup diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga harus dilihat dari kualitas fasilitas yang dihasilkan dan dampaknya terhadap proses pendidikan.
“Yang paling penting adalah bagaimana revitalisasi ini memberikan manfaat nyata. Sekolah harus menjadi lebih layak, siswa mendapatkan lingkungan belajar yang baik, dan masyarakat turut merasakan dampak positif dari pembangunan tersebut. Jika ada persoalan, mari kita selesaikan berdasarkan fakta dan mekanisme hukum, bukan dengan membangun narasi yang justru merugikan kepentingan daerah,” tutup Kelian.























