JCCNetwork.id-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan di tengah membaiknya sentimen pasar global dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi domestik.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg pada Selasa (16/6/2026) pukul 14.46 WIB, rupiah menguat ke posisi Rp17.715 per dolar AS.
Sementara itu, IHSG pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya tercatat naik 4,12 persen ke level 6.254,97.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pergerakan positif kedua instrumen tersebut dipengaruhi perkembangan geopolitik internasional, khususnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Selain faktor eksternal, Leong menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta rencana pemerintah melakukan penyesuaian anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memberikan sentimen positif bagi investor.
“Iya, damai dan juga penguatan rupiah oleh langkah agresif BI serta pemerintah yang merencanakan akan kembali menurunkan anggaran MBG. Apabila damai, iya rupiah bisa menguat lagi di kisaran Rp17.000,” ujar Leong kepada Inilah.com, Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, meredanya ketegangan geopolitik berpotensi membuka ruang penguatan rupiah lebih lanjut apabila kesepakatan damai antara Washington dan Teheran dapat direalisasikan secara konsisten.
Kesepakatan tersebut diumumkan setelah pejabat AS dan Iran menyatakan telah mencapai perjanjian untuk mengakhiri konflik yang berlangsung di antara kedua negara.
Salah satu poin utama dalam kesepakatan itu adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.
Presiden AS Donald Trump menyebut perjanjian tersebut akan menjamin kelancaran akses pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara pemerintah Iran menyatakan perundingan terkait program nuklir akan kembali dilanjutkan setelah proses pencairan dana yang selama ini dibekukan oleh AS.
Perkembangan itu mendapat respons positif dari komunitas internasional.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, menyambut baik tercapainya kesepakatan damai dan menilai langkah tersebut sebagai peluang penting untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Dukungan serupa datang dari kelompok negara E4 yang terdiri atas Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia.
“Kami siap bekerja sama dengan AS, Iran, dan IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) untuk mencapai tujuan ini,” tulis pernyataan tersebut.
Dalam pernyataan bersama, negara-negara tersebut menegaskan pentingnya pengawasan terhadap program nuklir Iran serta menyatakan kesiapan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas kawasan.
“Saya menyerukan implementasi yang cepat dan penuh oleh semua pihak yang berperang. Perjanjian ini harus memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara mendesak dan tanpa syarat, yang siap didukung oleh misi internasional yang didirikan bersama Inggris,” tegas Macron.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menyampaikan apresiasi atas tercapainya kesepakatan tersebut.
Keduanya berharap implementasi perjanjian dapat berjalan efektif sehingga mendukung pemulihan ekonomi global dan menciptakan situasi keamanan yang lebih stabil di Timur Tengah.
Pelaku pasar menilai perkembangan geopolitik yang lebih kondusif berpotensi mengurangi tekanan terhadap pasar keuangan global, sekaligus meningkatkan minat investasi pada aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Sangat penting untuk menerapkannya dengan tekad yang kuat,” tambahnya.


