JCCNetwork.id- Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite tetap dipertahankan di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, hingga saat ini belum ada keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi, termasuk Pertalite, meskipun tekanan harga minyak global terus meningkat.
“Jadi kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau harga minyak dunia naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah,” ujar Bahlil di Jakarta dikutip, Rabu (4/3/2026).
Harga Minyak Lampaui Asumsi APBN
Kementerian ESDM mencatat harga minyak mentah dunia saat ini bergerak di kisaran 78 hingga 80 dolar Amerika Serikat per barel. Angka tersebut melampaui asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.
Kondisi ini menimbulkan konsekuensi fiskal bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM. Setiap hari, Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Lonjakan harga global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi yang harus ditanggung negara.
Meski demikian, pemerintah juga memperhitungkan tambahan penerimaan negara dari produksi minyak domestik. Indonesia saat ini memproduksi sekitar 600 ribu barel per hari, sehingga terdapat selisih volume antara impor dan produksi yang menjadi dasar perhitungan dampak fiskal.
“Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung,” tuturnya.
BBM Nonsubsidi Ikuti Mekanisme Pasar
Berbeda dengan BBM subsidi, pemerintah membuka ruang penyesuaian harga untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax. Penyesuaian tersebut dilakukan mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.
Kementerian ESDM menyatakan mekanisme penetapan harga BBM nonsubsidi mengacu pada formula yang mempertimbangkan komponen harga minyak internasional, biaya distribusi, serta faktor perpajakan. Dengan tren harga global yang meningkat, kemungkinan kenaikan harga BBM nonsubsidi tetap terbuka.
Pemerintah Klaim Situasi Masih Terkendali
Bahlil menambahkan, hasil rapat bersama Dewan Energi Nasional menyimpulkan belum ada urgensi untuk menaikkan harga BBM subsidi dalam waktu dekat. Pemerintah disebut masih memiliki ruang pengelolaan fiskal untuk menjaga stabilitas harga energi, terutama menjelang momentum Ramadan dan Idulfitri.
“Sampai dengan kami rapat, belum ada (kenaikan harga BBM subsidi), jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, insya Allah belum ada kenaikan harga BBM,” pungkasnya.
Pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global, sembari terus memantau perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi memicu volatilitas harga energi dunia. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk memastikan kebijakan subsidi tetap tepat sasaran dan tidak membebani keuangan negara secara berlebihan.



















