AS Masuk ke Sektor Energi Venezuela, Trump Janjikan Pemulihan Industri Minyak

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Washington telah mengambil alih kendali atas cadangan minyak Venezuela.

Langkah tersebut disertai rencana melibatkan perusahaan-perusahaan energi asal AS untuk menggelontorkan investasi bernilai miliaran dolar guna memulihkan industri minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun mengalami kemerosotan.

- Advertisement -

Trump menyatakan, proses pengelolaan sektor energi Venezuela tengah disiapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya.

Pemerintahan AS disebut akan berperan sementara dalam mengelola transisi pemerintahan dan sektor strategis negara tersebut.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel.

- Advertisement -

Jumlah tersebut setara hampir 20 persen dari total cadangan minyak global dan melampaui Arab Saudi. Kekayaan sumber daya ini dipandang sebagai faktor kunci yang akan menentukan arah masa depan Venezuela.

Meski demikian, dampak kebijakan ini terhadap harga minyak dunia belum dapat dipastikan. Pasar komoditas global masih menunggu reaksi resmi mengingat perdagangan minyak tutup pada akhir pekan.

Trump menegaskan, AS akan mengerahkan perusahaan minyak raksasa untuk memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang dinilai rusak parah.

“Kami akan membawa perusahaan-perusahaan minyak terbesar di dunia untuk masuk dan mengucurkan miliaran dolar guna memulihkan industri minyak Venezuela,” ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, seperti dikutip dari CNN Internasional.

Pemulihan sektor energi Venezuela berpotensi mengubah peta pasokan minyak global dan membuka peluang besar bagi perusahaan energi Barat.

Namun, proses tersebut diperkirakan tidak akan berjalan cepat. Diperlukan waktu bertahun-tahun serta biaya yang sangat besar untuk mengembalikan kapasitas produksi ke tingkat optimal.

Perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, mengungkapkan bahwa sebagian besar jaringan pipa tidak diperbarui selama lebih dari lima dekade. Untuk mengembalikan produksi ke level puncak, dibutuhkan dana sekitar USD58 miliar.

Analis pasar senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai situasi ini sebagai momentum penting bagi industri energi global.

“Bagi sektor minyak, ini bisa menjadi peristiwa bersejarah. Rezim Maduro dan Hugo Chavez pada dasarnya telah merusak industri minyak Venezuela,” ujarnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Harga Pangan Nasional Bergerak Naik

JCCNetwork.id- Pergerakan harga pangan nasional kembali menunjukkan fluktuasi pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Sejumlah komoditas utama mengalami kenaikan signifikan, terutama gula pasir, daging sapi, bawang,...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER