JCCNetwork. id- Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, terpaksa dievakuasi dengan pengawalan ketat polisi setelah rombongannya diserang lemparan batu saat berkunjung ke desa Badui Tarabin al-Sana, wilayah Negev, Minggu. Insiden tersebut memicu bentrokan antara aparat keamanan dan warga setempat.
Ben Gvir tiba di desa tersebut bersama sejumlah pejabat kepolisian senior untuk meninjau operasi keamanan menyusul penggerebekan yang dilakukan pada malam sebelumnya di rumah-rumah warga Palestina Badui serta penangkapan sejumlah penduduk. Kehadiran menteri berhaluan ekstrem kanan itu langsung disambut penolakan warga.
Sejumlah rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan situasi memanas ketika warga melempari rombongan Ben Gvir dengan batu. Polisi bersenjata kemudian membentuk barikade dan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa serta mengamankan kepergian sang menteri dari lokasi.
Media Israel melaporkan puluhan warga desa terlibat konfrontasi langsung dengan aparat selama kunjungan tersebut. Kepolisian Israel mengonfirmasi dua warga ditangkap terkait kerusuhan dan membenarkan penggunaan gas air mata untuk mengendalikan situasi.
Dalam pernyataan kepada wartawan saat meninggalkan desa dengan pengawalan, Ben Gvir menuding komunitas Badui Palestina hidup tanpa kepatuhan terhadap hukum. Ia juga membela penerapan pos pemeriksaan, blokade beton, dan penutupan akses jalan di wilayah Badui, serta menepis tudingan bahwa kebijakan tersebut merupakan bentuk hukuman kolektif.
Pernyataan itu memicu kecaman dari warga dan tokoh lokal Badui yang menilai retorika Ben Gvir mencerminkan sikap diskriminatif dan merendahkan. Mereka menyebut pendekatan keamanan di wilayah Badui bersifat represif dan menyerupai operasi militer di Tepi Barat yang diduduki, bukan penegakan hukum sipil.
Seorang warga bernama Alaa mengatakan kepada media lokal Ynet bahwa komunitas Badui kerap dijadikan sasaran untuk membenarkan agenda politik Ben Gvir. Ia mempertanyakan keberadaan pos pemeriksaan yang dinilai tidak relevan jika tujuan aparat semata-mata adalah menangkap pelaku kriminal.
Kritik juga datang dari kubu oposisi Israel. Tokoh oposisi Yair Lapid menuduh Ben Gvir memanfaatkan isu meningkatnya kejahatan di kota-kota Palestina untuk kepentingan politik dan pencitraan, alih-alih fokus pada solusi nyata atas kekerasan yang terjadi. Para pemimpin Badui bahkan menyebut program keamanan bertajuk “Orde Baru” yang digagas Ben Gvir sebagai bentuk penindasan politik.
Meski gagal melanjutkan kunjungan akibat penolakan warga, Ben Gvir menegaskan tidak akan mundur. Ia menyatakan akan kembali ke wilayah tersebut dan menyebut insiden itu sebagai tantangan terhadap otoritas negara, bukan sebagai cerminan penolakan masyarakat terhadap kebijakannya.




