JCCNetwork.id- Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keinginannya untuk kembali menjalin hubungan dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers pada Kamis (13/3), di mana Trump menegaskan bahwa ia memiliki hubungan yang baik dengan Kim selama masa jabatannya.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut Kim Jong-un sebagai seorang pemimpin dengan kekuatan nuklir yang memiliki banyak senjata nuklir. Pernyataan tersebut muncul saat pemerintahan AS tengah mengejar denuklirisasi total Korea Utara. Trump juga mengklaim bahwa jika dirinya tidak terpilih pada 2016 dan Hillary Clinton yang memenangkan pemilu, maka AS kemungkinan sudah mengalami perang nuklir dengan Korea Utara.
“Ya, saya ingin menjalin lagi hubungan itu,” kata Trump, saat menanggapi pertanyaan seorang wartawan tentang rencana untuk membangun kembali hubungan yang ia miliki pada masa jabatan pertamanya, dikutip The Korea Times.
“Saya memiliki hubungan yang hebat dengan Kim Jong-un (dari) Korea Utara. Jika saya tidak terpilih, jika Hillary yang terpilih, Anda akan mengalami perang nuklir dengan Korea Utara,” tambahnya, saat duduk di samping Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih.
Trump dan Kim Jong-un sebelumnya telah bertemu dalam tiga pertemuan bersejarah. Pertemuan pertama terjadi di Singapura pada Juni 2018, disusul dengan pertemuan kedua di Hanoi pada Februari 2019, dan pertemuan ketiga di Panmunjom pada Juni 2019.
Upaya diplomasi ini sempat menjadi sorotan dunia karena melibatkan pertemuan langsung antara pemimpin AS dan Korea Utara yang sebelumnya jarang terjadi.
Sejak awal 2024, spekulasi mengenai hubungan AS-Korea Utara kembali mencuat. Trump sebelumnya mengatakan bahwa ia akan kembali menghubungi Kim Jong-un dan menyebutnya sebagai “orang cerdas.” Namun, banyak analis menilai bahwa hubungan Pyongyang dengan Washington semakin merenggang seiring dengan kedekatan Korea Utara dengan Rusia. Pyongyang saat ini bergantung pada Moskow untuk pasokan makanan, bahan bakar, serta dukungan militer.
“Saya memiliki hubungan yang hebat dengan Kim Jong-un, dan kita lihat nanti apa yang terjadi. Tapi tentu saja, dia merupakan kekuatan nuklir,” katanya.
Pernyataan Trump mengenai Korea Utara sebagai kekuatan nuklir juga memicu perdebatan. Istilah tersebut jarang digunakan oleh pejabat AS karena dapat dianggap sebagai pengakuan terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Pyongyang. Sejak dilantik pada 20 Januari, Trump telah beberapa kali menggunakan istilah ini, sehingga menimbulkan spekulasi mengenai sikapnya terhadap Korea Utara.
Meskipun Gedung Putih menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan AS tetap pada denuklirisasi total Korea Utara, pernyataan Trump menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan luar negeri AS jika dirinya kembali menjabat. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Korea Utara terkait pernyataan Trump tersebut.
























