JCCNetwork.id-Erupsi Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, memaksa 1.214 jiwa mengungsi ke sejumlah lokasi yang telah disediakan pemerintah.
Data terbaru dari Posko Erupsi Gunung Ibu per 21 Januari 2025 pukul 16.00 WIT menyebutkan bahwa letusan abu vulkanik dengan ketinggian mencapai 4.000 meter di atas puncak telah memaksa warga meninggalkan rumah mereka.
Penjabat (Pj) Gubernur Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan enam titik lokasi pengungsian bagi warga terdampak.
“Saat ini ada enam titik lokasi pengungsian telah disediakan bagi warga terdampak erupsi Gunung Ibu,” kata Penjabat (Pj) Gubernur Maluku Utara Samsuddin Abdul Kadir saat dihubungi, Kamis.
Adapun lokasi pengungsian meliputi Pos Gereja Tua Emanuel Desa Tongute yang menampung 108 Kepala Keluarga (KK) atau 276 jiwa, Kantor Desa Tongute Sungi dengan 21 KK atau 53 jiwa, Pos Gereja Sion Akesibu yang dihuni 27 KK atau 61 jiwa, SMKS Anak Negeri Akesibu yang menjadi tempat tinggal sementara 37 KK atau 157 jiwa, serta Pos SD Tongute Goin yang menampung 15 KK atau 32 jiwa.
Dari total jumlah pengungsi, terdapat kelompok rentan, termasuk 13 ibu hamil, 94 balita, 21 anak usia dini, dan 97 orang lanjut usia (lansia).
Secara keseluruhan, pengungsi terdiri dari 504 laki-laki dan 710 perempuan.
Status Gunung Ibu sendiri telah meningkat menjadi Level IV atau Awas sejak 15 Januari 2025, menyusul dentuman keras dan semburan abu vulkanik yang mengancam keselamatan warga.
Akibatnya, sebanyak 287 KK atau 649 jiwa dari enam kecamatan terdampak—Sangaji Nyeku, Soasangaji, Tuguis, Togoreba Sungi, Borona, dan Todoke—harus dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.
Pemerintah terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi dapat terpenuhi.




