JCCNetwork.id-Langkah tegas yang diambil oleh PDI Perjuangan dalam memecat Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Muhammad Bobby Afif Nasution sebagai kader partai menjadi sorotan publik.
Keputusan tersebut diumumkan pada Sabtu (14/12) lalu, menandai babak baru hubungan antara Jokowi dan partai yang pernah menjadi kendaraan politiknya selama hampir satu dekade.
Deddy Yevri Hanteru Sitorus, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif, menjelaskan alasan partai baru mengambil langkah ini setelah kontestasi Pemilu 2024 berakhir. Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menjaga martabat Jokowi sebagai presiden yang sedang menjabat.
“Kita memiliki nilai etik dan moralitas politik untuk menjaga martabat Jokowi sebagai presiden yang harus dihormati semasa menjabat,” kata Deddy, Senin kemarin.
Deddy menegaskan bahwa partai memilih untuk menunda pemecatan demi menghindari narasi jahat yang bisa mencoreng citra PDIP di tengah hajatan politik besar. Ia menyebut, langkah ini adalah bentuk strategi politik yang matang agar tidak memancing konflik atau persepsi negatif yang bisa merugikan partai maupun Jokowi sebagai kepala negara.
“Jadi proses ini bukan khusus hanya soal Jokowi dan keluarga tetapi kader-kader di seluruh Indonesia,” kata Deddy.
Keputusan pemecatan ini diumumkan oleh Ketua Bidang Kehormatan DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun, dalam sebuah video resmi yang disiarkan PDIP di Jakarta pada Senin (16/12). Dalam video tersebut, Komarudin membacakan tiga surat keputusan pemecatan masing-masing untuk Jokowi, Gibran, dan Bobby.
“Jadi tentu yang terbaik adalah melakukan pemecatan setelah semua kontestasi politik selesai. Sehingga jelas dan tegas bahwa proses ini semata-mata untuk menegakkan aturan dan disiplin partai,” kata Deddy.
Tiga surat keputusan pemecatan tersebut bernomor 1649, 1650, dan 1651. Dalam surat-surat itu, ditegaskan bahwa pemecatan terhadap Jokowi, Gibran, dan Bobby adalah sanksi atas tindakan mereka yang dianggap melanggar aturan partai. Selain itu, ketiganya dilarang untuk melakukan kegiatan atau menduduki jabatan apapun yang mengatasnamakan PDIP.
“Saya mendapat perintah langsung dari Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk mengumumkan secara resmi, sesuai Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga Partai di depan seluruh jajaran ketua DPD partai seluruh Indonesia,” kata Komarudin.
Komarudin juga menyebut bahwa keputusan ini akan dipertanggungjawabkan dalam Kongres partai yang akan datang. Namun, ia menambahkan bahwa surat keputusan tersebut dapat ditinjau kembali apabila ditemukan kekeliruan di kemudian hari.
“Terhitung setelah dikeluarkannya surat pemecatan ini, maka PDI Perjuangan tidak ada hubungan, dan tidak bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dilakukan saudara,” kata Komarudin saat membacakan salah satu poin yang tercantum dalam tiga surat pemecatan tersebut.
Jokowi resmi bergabung sebagai kader PDI Perjuangan pada 2014, bertepatan dengan pencalonannya sebagai presiden untuk pertama kali. Langkah ini didukung penuh oleh Megawati Soekarnoputri, yang saat itu melihat potensi besar dalam sosok mantan wali kota Solo tersebut.
Gibran Rakabuming Raka menyusul bergabung dengan PDIP pada 2019, seiring dengan pencalonannya sebagai Wali Kota Solo. Sementara itu, Bobby Afif Nasution, menantu Jokowi, menjadi kader partai pada 2020 ketika ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota Medan.
Namun, hubungan antara Jokowi dan PDIP mulai merenggang menjelang Pemilu 2024. Berbagai perbedaan pandangan, termasuk soal dukungan politik, memicu spekulasi bahwa posisi Jokowi di partai tidak lagi solid. Keputusan PDIP untuk memecat Jokowi, Gibran, dan Bobby pun akhirnya menjadi klimaks dari berbagai dinamika tersebut.
Deddy Sitorus menegaskan bahwa pemecatan ini bukanlah langkah yang hanya ditujukan kepada Jokowi dan keluarganya. Ia menyebut bahwa PDIP telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kader-kadernya di seluruh Indonesia setelah Pemilu 2024 selesai.
“Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan, akan ditinjau kembali dan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya,” kata Komarudin.
Dalam pengumuman tersebut, Komarudin Watubun juga menyebut bahwa Jokowi, Gibran, dan Bobby dipecat bersama dengan 27 anggota PDIP lainnya. Namun, Komarudin tidak merinci nama-nama mereka.
Keputusan pemecatan ini menandai babak baru dalam perjalanan politik Jokowi. Sebagai presiden yang telah menjabat selama dua periode, Jokowi kini berada di luar partai yang membesarkan namanya.
Hal yang sama berlaku untuk Gibran dan Bobby, yang kini harus menghadapi tantangan baru di luar naungan PDIP.
Ke depan, perhatian publik tentu akan tertuju pada langkah-langkah politik Jokowi, Gibran, dan Bobby pasca-pemecatan ini.
Apakah mereka akan bergabung dengan partai politik lain, atau memilih jalur independen dalam berpolitik? Semua ini menjadi pertanyaan besar yang akan terjawab dalam waktu dekat.



