Mengungkap Kejayaan di Balik Gereja Tertua Kota Depok

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Terselip di tengah kawasan Depok Lama, tepatnya di Jalan Pemuda, terdapat suatu bangunan yang menjulang gagah, mengandung berabad-abad sejarah di setiap serat bangunannya. Inilah Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, tempat bersemayamnya warisan masa lalu yang tak tergoyahkan.

Gereja Immanuel Depok telah berdiri tegak sejak tahun 1713, menjadi saksi bisu dari perjalanan waktu. Bangunan ini adalah persembahan dari tuan tanah bernama Cornelis Chastelein, seorang pria berjiwa besar yang memberikan kemerdekaan bagi budak-budaknya yang disebut kaum mardijkers atau lebih dikenal sebagai Belanda Depok. Kaum ini, yang memeluk agama Kristen Protestan, diberikan kebebasan untuk mempraktikkan keyakinan mereka serta mewariskan aset dan tanah di daerah tersebut.

- Advertisement -

Belanda Depok terdiri dari 12 keluarga yang menyandang nama Loen, Leanders, Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Laurens, Tholense, Soedira, Samuel, dan Zadokh.

Meski hidup dalam keterbatasan, mereka tetap berpegang teguh pada iman mereka dan menghadiri gereja yang berada di Jakarta setiap kali beribadah.

Melihat semangat mereka yang tak tergoyahkan, Chastelein dengan penuh kebijaksanaan memutuskan untuk membangun sebuah gereja yang diberi nama De Protestanse Kerk. Pendeta pertama yang memimpin gereja ini adalah Baprima Lukas, seorang pria kelahiran Bali yang menyebar sinar iman di tengah-tengah jemaat.

- Advertisement -

Gereja Immanuel Depok menjulang megah di atas lahan seluas 360 meter persegi. Pada awalnya, struktur gereja ini dibangun dengan bahan kayu dan bambu yang kini telah usang oleh dentangan waktu. Tidak mau membiarkan penampakan historis ini terkikis, gereja menjalani proses renovasi pada tahun 1792, dengan perubahan desain menggunakan material bebatuan yang lebih kokoh.

Namun, pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1833, nasib gereja ini teruji oleh gempa dahsyat yang melanda wilayah tersebut. Getaran kuat yang berasal dari Gunung Krakatau, berpusat di Selat Sunda, mengguncang bangunan gereja ini.

Ibadah jemaat gereja pun terpaksa dilakukan dalam bangunan darurat hingga tahun 1854, saat gereja permanen yang baru dibangun dengan penuh keikhlasan dan kesetiaan.

Pada tanggal 7 Desember 1952, gereja yang dulu dikenal dengan nama Gereja Protestan Depok akhirnya diserahkan kepada Sinode Gereja Protestan Indonesia di Jakarta. Sebagai penghormatan atas jasa-jasa Chastelein, gereja ini pun berubah nama menjadi Gereja Immanuel Depok, memancarkan keberanian. [ Willi Nafie ]

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Nico Paz Cedera Kepala, Dilarikan ke Rumah Sakit

JCCNetwork.id-Kemenangan 2-0 Como atas Genoa pada lanjutan Serie A pekan ke-34 di Stadion Luigi Ferraris, Minggu (26/4/2026), diwarnai insiden cedera kepala yang dialami gelandang...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER