JCCNetwork.id- Gelombang panas ekstrem kembali melanda sejumlah wilayah Eropa dengan suhu yang mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena tersebut telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan memicu peringatan dari para ilmuwan mengenai dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Mengutip France24, Selasa (30/6/2026), para ahli menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem saat ini dipengaruhi pola sirkulasi atmosfer yang membuat udara panas terjebak di satu kawasan dalam waktu lama.
Situasi tersebut diperparah oleh meningkatnya suhu global akibat emisi gas rumah kaca.
Ilmuwan dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), Samantha Burgess, mengatakan pola atmosfer yang dikenal sebagai omega block menjadi pemicu utama gelombang panas kali ini.
Pola tersebut terbentuk ketika sistem tekanan tinggi yang membawa udara panas dari Afrika Utara terperangkap di antara dua sistem tekanan rendah, masing-masing berada di Eropa Tengah dan lepas pantai Portugal.
Kondisi itu menyebabkan aliran jet stream, yakni arus udara di lapisan atas atmosfer yang berperan menggerakkan sistem cuaca, tidak dapat bergerak secara normal.
Akibatnya, massa udara panas terus bertahan di wilayah yang sama selama berhari-hari hingga berminggu-minggu.
“Jet stream terjebak dalam sebuah putaran, sehingga memaksa sistem cuaca lainnya bergerak mengelilinginya,” ujar Burgess.
Kepala Meteorologi Met Office Inggris, Will Lang, menjelaskan bahwa pola blocking tersebut dapat menguat dengan sendirinya karena minim gangguan dari sistem cuaca lain. Dampaknya, panas terus terakumulasi dan suhu udara semakin meningkat.
“Karena itulah disebut blocking. Ketika pola meteorologi ini terbentuk, kondisinya bisa terus menguat dengan sendirinya dalam waktu yang cukup lama,” kata Kepala Meteorologi Kantor Meteorologi Inggris (Met Office), Will Lang.
Sementara itu, peramal cuaca dari badan meteorologi Prancis, Sebastien Leas, menggambarkan mekanisme tersebut seperti penyedot yang menarik udara panas dari Afrika Utara sebelum mengalirkannya ke wilayah utara melalui arus udara yang kuat.
Apabila pola omega block bertahan dalam kondisi stabil, fenomena itu berpotensi berkembang menjadi heat dome atau kubah panas.
Dalam kondisi tersebut, sistem tekanan tinggi bertindak seperti penutup yang memerangkap panas di dekat permukaan bumi sehingga suhu terus meningkat.
Selain menahan panas, heat dome juga menghambat pembentukan awan dan memperlemah hembusan angin.
Kondisi tersebut membuat radiasi matahari terus mengenai permukaan bumi tanpa banyak gangguan sehingga suhu udara meningkat secara bertahap setiap hari.
Para ilmuwan menegaskan bahwa omega block maupun heat dome merupakan fenomena atmosfer yang dapat terjadi secara alami.
Namun, pemanasan global akibat perubahan iklim membuat intensitas gelombang panas menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Burgess menyebutkan, ketika heat dome terbentuk di tengah kondisi bumi yang semakin hangat, suhu yang dihasilkan akan lebih ekstrem.
Meski penelitian mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap frekuensi sistem tekanan tinggi di Eropa masih berlangsung, para ilmuwan menilai pemanasan global telah membuat gelombang panas berlangsung lebih lama, lebih intens, dan semakin berbahaya.


