Tradisi Mandi Tujuh Sumur Vihara Gayatri Terbuka untuk Umum, Ramai Tiap Selasa Kliwon

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Tradisi ritual mandi di kawasan Tujuh Sumur menjadi salah satu daya tarik utama di Vihara Gayatri yang berlokasi di Jalan Cilangkap, Tapos, Kota Depok, Jawa Barat. Ritual tersebut terbuka bagi masyarakat umum tanpa memandang latar belakang agama dan kerap diikuti pengunjung lintas iman.

Di area seluas kurang lebih dua hektare itu, tujuh sumur berjajar di bagian ujung kompleks vihara. Masing-masing sumur dilapisi dinding batu hitam dan ubin keramik hijau, dengan diameter sekitar 90–100 sentimeter. Di setiap sumur terpasang nomor, nama, serta doa yang diyakini berkaitan dengan hajat tertentu.

- Advertisement -

Pengurus vihara, Mastus, mengatakan ritual mandi dilakukan dengan tata cara khusus. Pengunjung diguyur air dari setiap sumur secara berurutan sebanyak tujuh gayung.

Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan menyelam delapan kali di kolam besar yang berada di samping deretan sumur, lalu mengambil air dari sumur kecil di tengah kolam untuk membilas tubuh.

“Setiap sumur itu tujuh gayung. Tujuannya tergantung niat masing-masing, ada yang untuk kesehatan, rezeki, jodoh, atau perlindungan,” ujar Mastus saat ditemui di lokasi.

- Advertisement -

 

Ia menjelaskan, sumber air Tujuh Sumur berasal dari mata air alami dan tidak menggunakan pompa. Menurutnya, debit air relatif stabil meski jumlah pengunjung meningkat pada waktu-waktu tertentu.

Keramaian biasanya terjadi pada malam Senin menuju Selasa Kliwon, yang oleh sebagian pengunjung diyakini memiliki nilai spiritual tersendiri. Namun, ritual mandi juga dapat dilakukan pada hari biasa hingga pukul 19.00 WIB.

Selain mandi, sebagian pengunjung melemparkan koin logam ke dalam sumur sebagai bagian dari ritual. Umumnya tiga atau lima koin dilemparkan ke tiap sumur sebagai simbol doa. Meski demikian, pengelola menegaskan bahwa niat pribadi menjadi hal utama dalam menjalani prosesi tersebut.

Tradisi ini tidak hanya diikuti umat Tionghoa. Hartini (44), warga non-Tionghoa yang rutin berkunjung, mengaku datang karena lokasi yang dekat dari rumahnya. Ia menyebut air sumur terasa segar seperti mata air pegunungan.

“Saya ke sini kadang hanya cuci muka, kadang ikut mandi juga. Airnya dingin dan segar,” katanya.

Ia menambahkan, keikutsertaannya dalam ritual dimaknai secara personal dan tidak mengubah keyakinannya.

Meski terbuka untuk umum, terdapat aturan yang harus dipatuhi pengunjung. Salah satunya larangan bagi perempuan yang sedang haid untuk mengikuti ritual mandi, sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian area.

Pengelola juga memasang papan peringatan yang melarang aktivitas peramalan, praktik energi, atau kegiatan serupa, kecuali dilakukan oleh pihak yang berwenang.

Menurut Mastus, keberadaan Tujuh Sumur bermula dari petunjuk spiritual yang diterima pendiri vihara saat melakukan ziarah ke Cirebon.

Penamaan sumur, lanjutnya, diberikan oleh seorang tokoh spiritual dari wilayah Borobudur.

Di luar rangkaian perayaan Imlek yang lebih difokuskan pada sembahyang dan penghormatan leluhur, ritual mandi Tujuh Sumur tetap berlangsung sebagai praktik spiritual yang berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Keberadaannya kini menjadi ruang perjumpaan lintas keyakinan dengan tetap mengedepankan aturan dan penghormatan antarumat beragama.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

BMKG Prediksi Hujan Guyur Jabodetabek Hari Ini

JCCNetwork.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER