JCCNetwork.id-Permintaan dupa berbahan dasar kayu gaharu mengalami peningkatan signifikan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026.
Salah satu perajin di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Yati Maisyaroh, mencatat lonjakan produksi hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.
Saat ditemui di kediamannya, Jumat (13/2/2026), Yati mengatakan tren permintaan tahun ini terbilang sangat positif.
Konsumen, kata dia, cenderung mencari dupa berbahan alami karena dinilai memiliki aroma khas dan bebas campuran bahan kimia.
“Ini produksi dupa lidi dari gaharu, jadi alami. Untuk menjelang Imlek ini alhamdulillah bisa dua kali lipat dari biasanya,” jelas Yati saat ditemui di rumah , Jumat (13/2/2026).
Untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut, Yati kini memproduksi sedikitnya 25 kilogram dupa jadi per hari.
Seluruh proses pembuatan masih dilakukan secara tradisional guna menjaga kualitas dan keaslian aroma gaharu.
Kayu gaharu kualitas super yang masih berbentuk gelondongan terlebih dahulu dihancurkan hingga menjadi serbuk halus.
Serbuk tersebut kemudian diolah dan ditempelkan pada stik kayu menggunakan alat khusus hingga menjadi dupa siap pakai.
Produk dupa asal Jombang ini dipasarkan dengan harga terjangkau.
Untuk kemasan kecil dijual mulai Rp15.000 per bungkus, sedangkan pembelian grosir atau kiloan dibanderol sekitar Rp150.000 per kilogram, tergantung jenis dan ukuran.
Usaha yang telah dijalankan lebih dari satu dekade itu tidak hanya melayani pasar domestik.
Yati mengungkapkan produknya rutin dikirim ke sejumlah negara, antara lain Taiwan, Singapura, dan Malaysia.
Dari usaha tersebut, Yati mampu meraih omzet rata-rata sekitar Rp20 juta per bulan.
Momentum perayaan Imlek menjadi salah satu periode dengan penjualan tertinggi setiap tahunnya.
Ketekunan dalam menjaga kualitas bahan baku dan mempertahankan metode produksi tradisional menjadi kunci keberlangsungan usaha dupa gaharu yang kini semakin diminati pasar, baik lokal maupun internasional.
“Luar negeri ada yang Taiwan, Malaysia. Kalau lokal banyak. Kalau omzetnya per bulan sekitar Rp 20 juta,” tutur Yati mengenai keberhasilan usahanya.



