JCCNetwork.id- Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Josephine Simanjuntak, menyoroti belum adanya rencana revitalisasi menyeluruh terhadap Pasar Sunan Giri yang berada di Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Ia menilai, kondisi fisik pasar tersebut sudah tidak layak dan berpotensi membahayakan keselamatan pedagang maupun pengunjung.
Dalam keterangannya pada Kamis (15/1), Josephine mengungkapkan bahwa langkah pengecatan bangunan pasar yang sempat dilakukan oleh Perumda Pasar Jaya tidak menyentuh persoalan utama. Menurutnya, Pasar Sunan Giri membutuhkan perbaikan struktural secara menyeluruh, bukan sekadar perawatan kosmetik.
“Karena begini, kok malah dicat bukannya dibangun ulang. Mestinya ini bukan sekadar dicat ulang. Kalau kita masuk ke dalam pasar itu, kondisinya riskan dengan plafon-plafon yang bisa rubuh,” kata Josephine, Kamis (15/1).
Josephine menyebutkan, berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, kondisi bangunan pasar, khususnya bagian plafon, berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Ia menilai, potensi kerusakan serius terlihat baik di lantai satu maupun lantai dua pasar tersebut.
“Tidak hanya di lantai satu, tapi juga di lantai dua. Plafon itu sudah nggak jelas kondisinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah bagian plafon tampak tidak terawat dan tidak jelas kekuatannya, sehingga berisiko runtuh sewaktu-waktu. Kondisi itu dinilai dapat mengancam keselamatan para pedagang yang beraktivitas setiap hari, serta masyarakat yang datang untuk berbelanja.
“Bagi saya ini riskan untuk para penjual dan pembeli yang akan datang,” tegasnya.
Menurut Josephine, Perumda Pasar Jaya sebagai pengelola pasar milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya memiliki perencanaan yang komprehensif terkait perbaikan dan revitalisasi pasar-pasar tradisional. Ia menegaskan, pendekatan tambal sulam tidak dapat dijadikan solusi jangka panjang.
Lebih lanjut, Josephine juga menyoroti aspek keselamatan lain yang dinilainya tidak kalah penting, yakni kesiapan sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran di pasar-pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya. Ia mempertanyakan apakah seluruh pasar telah dilengkapi sarana dan prasarana pengamanan kebakaran yang memadai.
Ia mengingatkan, peristiwa kebakaran yang terjadi di Pasar Kramat Jati harus menjadi peringatan serius bagi pengelola pasar dan pemerintah daerah. Menurutnya, kejadian tersebut tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa, melainkan sebagai momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan pasar di DKI Jakarta.
“Kedua, apakah semua pasar milik Pasar Jaya sudah punya perlengkapan untuk mengantisipasi kebakaran. Karena kejadian di Pasar Kramat Jati itu bukan main-main. Mestinya ini jadi pelajaran agar jangan sampai ada lagi pasar yang terbakar,” tutupnya.
Josephine menegaskan, tanpa perbaikan infrastruktur dan sistem keamanan yang memadai, risiko kecelakaan maupun kebakaran di pasar-pasar tradisional akan terus mengancam. Ia pun mendesak Perumda Pasar Jaya agar segera menyusun langkah konkret dan terukur untuk melakukan revitalisasi Pasar Sunan Giri demi menjamin keselamatan dan kenyamanan seluruh pihak yang beraktivitas di dalamnya.



