Fraksi PDI Perjuangan Nilai Gugatan Mentan Amran Terhadap “Tempo” Ancam Kebebasan Pers

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Lisa Umumkan EP Solo Terbaru

Ruben Onsu Terseret Kasus Investasi

Sarwendah Minta Peran Ruben

JCCNetwork.id- Fraksi PDI Perjuangan menilai gugatan perdata Menteri Pertanian, Amran Sulaiman terhadap Tempo sebagai langkah yang berpotensi mengancam kebebasan pers dan melemahkan mekanisme penyelesaian sengketa pers yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Fraksi PDI Perjuangan menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan pers dan tanggung jawab jurnalistik. Namun negara harus memastikan kritik dan fungsi kontrol media tetap dilindungi sebagai bagian dari demokrasi yang sehat.

- Advertisement -

“Kritik dari pers adalah napas demokrasi. Jangan sampai gugatan terhadap media justru menjadi bentuk pembungkaman yang membungkus diri dalam hukum,” kata Andreas Hugo Pareira.

PDI Perjuangan menilai, gugatan perdata bernilai besar terhadap media berpotensi menjadi bentuk tekanan dan pembungkaman terhadap fungsi kontrol pers.

Andreas yang juga Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan periode 2025-2030 ini berpendapat, pemerintah dan pejabat publik harus siap dikritik secara terbuka sebagai bagian dari akuntabilitas publik di negara demokratis.

- Advertisement -

Sebagaimana diberitakan, Koalisi Masyarakat Sipil bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar demo di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin, 3 November 2025. Demo tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Tempo yang sedang digugat secara perdata oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman.

Dalam gugatannya, Amran menuntut Tempo membayar ganti rugi lebih dari Rp 200 miliar karena dianggap merusak citra dan reputasinya, serta nama baik Kementerian Pertanian, karena laporan sampul pemberitaan Tempo bertajuk “Poles-poles Beras Busuk.”

Selain anggota AJI, aksi ini juga diikuti puluhan jurnalis Tempo, dari reporter muda hingga wartawan senior. Agenda sidang lanjutan hari ini adalah mendengarkan keterangan saksi ahli, Yosep Stanley Adi Prasetyo.

Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida menegaskan bahwa sengketa pemberitaan seharusnya diselesaikan melalui mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Menurut Nany, langkah Menteri Amran menggugat Tempo ke pengadilan menunjukkan kekeliruan dalam memahami kedudukan pers sebagaimana diatur undang-undang.

Sengketa pers memiliki dua mekanisme penyelesaian, yakni melalui hak jawab atau hak koreksi, serta mediasi di Dewan Pers.

“Gugatan sebesar Rp 200 miliar ini merupakan bentuk upaya pembungkaman dan pembangkrutan media,” ujar Nany dalam orasi di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Ia menilai gugatan ini tidak hanya mengancam Tempo sebagai institusi media, tetapi juga berbahaya bagi kebebasan pers secara umum. “Hari ini Tempo yang digugat, tapi ke depan bisa saja gugatan serupa ditujukan kepada media lain yang mengkritik pemerintah,” katanya.

Nany menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi pelajaran bagi pejabat publik dan lembaga pemerintah dalam memahami mekanisme penyelesaian sengketa pers. Membawa perkara ke pengadilan umum merupakan bentuk pembungkaman melalui jalur hukum. Karena itu, AJI menyerukan agar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menolak gugatan tersebut berdasarkan Undang-Undang Pers.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LBH Pers Mustafa Layong menyebut gugatan dengan tuntutan ganti rugi immateriil Rp 200 miliar sebagai hal yang tidak masuk akal dan tidak dibenarkan secara hukum.

Menurut Mustafa, Amran sebagai pejabat publik dan pembantu presiden tidak memiliki dasar hukum menggugat media yang menjalankan fungsi pengawasan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

“Apalagi dengan dalih bahwa berita Tempo merusak nama baik kementerian,” ujar Mustafa.

Ia menambahkan, “Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 105/PUU-XXII-2024, tuduhan pencemaran nama baik hanya dapat diajukan oleh individu, bukan lembaga pemerintah. Mirisnya, penggugat adalah Menteri Pertanian, yang seharusnya menjalankan kewajiban untuk memenuhi hak publik atas informasi.”

Ketua AJI Jakarta Irsyan Hasyim mendesak agar pengadilan tidak menindaklanjuti gugatan ini. Ia meminta agar majelis hakim dalam putusan sela membatalkan gugatan ini karena sudah ditangani oleh Dewan Pers. Menurut Irsyan, pengadian tidak punya wewenang menangani sengketa pers antaran Menteri Amran dan Tempo.

“Jika pengadilan melanjutkan perkara ini, maka pengadilan telah merusak marwahnya sendiri. Sengketa pers harus diselesaikan di Dewan Pers,” kata Irsyan.

Kronologi Kasus

AJI dalam keterangannya (3/11/2025) menyatakan, sengketa pers antara Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan Tempo bermula dari aduan terhadap pemberitaan Tempo berjudul “Poles-Poles Beras Busuk” yang tayang di akun X dan Instagram Tempo.co pada 16 Mei 2025.

Judul tersebut mewakili isi artikel yang mengungkap penyerapan gabah oleh Bulog melalui kebijakan any quality dengan harga tetap Rp 6.500 per kilogram. Akibat kebijakan ini, petani menyiram gabah yang berkualitas bagus agar bertambah berat. Gabah yang diserap Perum Bulog pun menjadi rusak.

Kerusakan gabah juga telah diakui Menteri Pertanian seperti dalam kutipan di artikel berjudul “Risiko Bulog Setelah Cetak Rekor Cadangan Beras Sepanjang Sejarah”.

Sengketa ini sudah dibawa ke Dewan Pers sebagai lembaga yang berwenang menangani sengketa pers. Dewan Pers kemudian mengeluarkan Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi (PPR) Nomor 3/PPR-DP/VI/2025. Dewan Pers menyatakan pemberitaan Tempo melanggar Kode Etik Jurnalistik Pasal 1 (tidak akurat dan melebih-lebihkan) serta Pasal 3 (mencampur fakta dan opini yang menghakimi).

PPR tersebut merekomendasikan agar Tempo mengganti judul poster, meminta maaf, melakukan moderasi konten, dan melaporkan pelaksanaan rekomendasi kepada Dewan Pers. Tempo telah memenuhi rekomendasi tersebut dalam batas waktu 2×24 jam.

Namun, Amran tetap mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan nomor perkara 684/Pdt.G/2025/PN JKT SEL, menilai Tempo tetap melakukan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan kerugian materiil dan imateriil bagi Kementerian Pertanian.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Usulan Pengadilan Agraria Tetap Dipertahankan, Akan Dikoordinasikan dengan MA

JCCNetwork.id- Rancangan Undang-Undang Reforma Agraria telah disepakati sebagai usul inisiatif yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat RI. Dalam proses pembahasannya di Panitia Kerja (Panja),...

Polisi Usut Dugaan Pemerkosaan

MU Gebuk Sabah di Old Trafford

Emas Dunia Anjlok 1 Persen

KAI Layani 351 Juta Penumpang

KONTEN VIDEO
Video thumbnail
Gegara Makanan Ringan dan Minuman Anak Kecil Sudah Banyak yang Cuci Darah #shorts #trending
01:54
Video thumbnail
DPR Respons Usulan Pakar Ubah Nama RUU Perampasan Aset, Kurang Seram
09:01
Video thumbnail
Hakim Pertanyakan Saksi Mahkota dan Hak Ingkar di KUHAP Baru
09:33
Video thumbnail
Kejagung Pajang Rp1 Triliun Uang Sitaan #shorts #trending
02:19
Video thumbnail
Konflik Agraria Tak Berujung, DPR Ungkap Masalah Mendasar di Balik Sengketa Tanah
11:11
Video thumbnail
Rp509 Miliar untuk Anggaran Pengawasan MBG, Kepala BPOM Yakin Kasus Keracunan Bisa Ditekan
10:43
Video thumbnail
Anak Kecil Sudah Banyak Cuci Darah, Uya Kuya Cecar BPOM soal Pengawasan Jajanan
08:46
Video thumbnail
AHY Tegaskan Sikap Demokrat di Era Prabowo, Dukung Penuh Semangat Presiden
15:48
Video thumbnail
Menko Zulhas Blak-blakan Akui MBG Gagal Ada Apa?
08:51
Video thumbnail
Akademisi Soroti LHKPN Tak Lagi Ditakuti #shorts #trending
02:40
Video thumbnail
Prabowo Ungkap Sikap Demokrat Saat di Luar Kekuasaan: Tak Caci Maki, Tak Bakar-Bakar
09:34
Video thumbnail
Prabowo Akui Ikuti Jejak SBY Terjun Politik: Kalau Nyontek yang Baik, Boleh
09:47
Video thumbnail
Bukan Perampasan Aset, Pakar Dorong Judul RUU Diubah Jadi Penyitaan #shorts #trending
01:48
Video thumbnail
Pakar Soroti Nama RUU Perampasan Aset, Lebih Tepat Disebut RUU Penyitaan
11:44
Video thumbnail
BPOM Dinilai Tak Akan Mampu Menekan Angka Keracunan MBG Begini Alasan DPR
12:14
Video thumbnail
Harusnya Semua Tindak Pidana Asetnya Bisa Disita, Jangan Hanya Batasi dengan 13 Poin Saja
12:37
Video thumbnail
Blak-blakan! Prabowo Akui SBY Taruna Terbaik, Dirinya Disebut Taruna yang Bisa Diperbaiki
09:34
Video thumbnail
Ada Ada Saja, Prabowo Lihat Teks Pidato, Aksinya Malah Bikin Hadirin Tertawa
08:40
Video thumbnail
Bukan Cuma Hasil Korupsi, Ahli Minta Harta dari Judi Bisa Disita Negara
12:42
Video thumbnail
HUT Demokrat, Prabowo Bicara Demokrasi Indonesia: Macam-macam Warna tapi Tetap Rukun
09:27

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER