Emas Dunia Anjlok 1 Persen

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Lisa Umumkan EP Solo Terbaru

Ruben Onsu Terseret Kasus Investasi

Sarwendah Minta Peran Ruben

JCCNetwork.id- Harga emas dunia melemah tajam pada perdagangan Jumat (11/9/2026), dengan penurunan lebih dari 1 persen.

Tekanan terhadap logam mulia terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan yang berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

- Advertisement -

Harga emas di pasar spot tercatat turun 1 persen menjadi US$4.355,85 per ons troi.

Dalam perdagangan sebelumnya, emas sempat terkoreksi hingga 1,7 persen dan menyentuh level US$4.323,78 per ons troi.

Kontrak emas berjangka AS juga berakhir di zona merah. Harganya turun 1,2 persen ke posisi US$4.407,30 per ons troi.

- Advertisement -

Penurunan tidak hanya terjadi pada emas.

Perak spot merosot 4,6 persen menjadi US$64,19 per ons troi.

Platinum turun 5,5 persen ke US$1.791,13 per ons troi, sementara paladium terkoreksi 5,1 persen menjadi US$1.283,52 per ons troi.

Pelaku pasar merespons data indeks harga produsen atau producer price index (PPI) AS yang memperlihatkan tekanan harga lebih tinggi dari perkiraan.

PPI untuk permintaan akhir naik 0,4 persen pada Agustus 2026, setelah pertumbuhan Juli direvisi menjadi 0,1 persen.

Analis pasar keuangan senior Capital.com Kyle Rodda menilai data tersebut menunjukkan tekanan inflasi yang mulai meningkat di perekonomian AS.

Kenaikan biaya energi menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan tersebut.

“Data PPI menunjukkan ada sedikit peningkatan inflasi yang mendasari perekonomian AS, dan sebagian di antaranya disebabkan oleh kenaikan biaya energi,” kata Rodda, dilansir dari Reuters.

Kondisi tersebut membuat perhatian investor tertuju pada keputusan Federal Reserve pekan depan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga kini diperkirakan mencapai 70 persen, meningkat dari 62 persen sebelum data PPI dirilis.

Penguatan dolar AS turut menambah tekanan terhadap harga emas.

Karena emas diperdagangkan menggunakan dolar, kenaikan nilai mata uang AS membuat logam mulia tersebut menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Sentimen negatif juga datang dari pasar energi. Harga minyak mentah melonjak sekitar 4 persen, sedangkan minyak Brent sempat menembus US$105 per barel.

Kenaikan terjadi setelah serangkaian serangan terhadap pelayaran memicu kekhawatiran baru mengenai keamanan dan kelancaran pasokan energi.

Tekanan inflasi akibat kenaikan biaya energi juga menjadi perhatian bank sentral Eropa.

Bank Sentral Eropa (ECB) tercatat kembali menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini sebagai langkah untuk menahan laju inflasi yang terdorong kenaikan harga energi akibat konflik.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

PIHPS Catat Harga Pangan Masih Tinggi

JCCNetwork.id- Harga sejumlah komoditas pangan strategis di pasar eceran nasional masih menunjukkan pergerakan yang cukup tinggi. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional...

Uang Korban Loker Dikembalikan

RUU Perampasan Aset Soroti Pajak

BGN Tutup 1.999 Dapur MBG Tak Ber-SLHS

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER

Fuad Maktour Kembali Disorot

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.512

MU Gebuk Sabah di Old Trafford

Studio Eks MNC TV Terbakar