JCCNetwork.id- Grab Indonesia secara tegas menolak tuntutan komunitas pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Garda Indonesia terkait permintaan pemotongan komisi maksimal 10 persen untuk aplikator. Perusahaan menilai tuntutan tersebut tidak sejalan dengan prinsip keberlanjutan ekosistem transportasi daring secara menyeluruh.
Saat ini, skema potongan komisi dari setiap aplikator berbeda-beda. Grab sendiri menetapkan potongan sebesar 20 persen dari tarif perjalanan. Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mengubah kebijakan tersebut karena dinilai masih sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan dan industri.
“Saat ini, tersedia berbagai platform layanan di pasar, termasuk yang menawarkan skema komisi lebih rendah dari 20 persen. Dalam ekosistem yang terbuka dan kompetitif ini, setiap mitra memiliki keleluasaan untuk memilih platform yang paling sesuai dengan harapan dan kebutuhannya,” kata Tirza, dikutip.
Ia menegaskan bahwa Grab berkomitmen mempertahankan kualitas layanan dan kesejahteraan mitra pengemudi dengan pendekatan jangka panjang yang lebih berkelanjutan. Menurutnya, menaikkan tarif jasa transportasi daring merupakan solusi yang lebih realistis dibanding menurunkan komisi aplikator.
“Grab percaya dalam lanskap tersebut, kualitas layanan, keberlanjutan dukungan, dan komitmen terhadap kesejahteraan mitra akan menjadi faktor pembeda yang utama,” tukas Tirza.
Grab juga menyatakan tengah menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, untuk mendukung peninjauan kembali struktur biaya jasa transportasi online. Menurut Tirza, selama lebih dari tiga tahun terakhir belum ada penyesuaian signifikan dalam tarif jasa transportasi, sementara biaya hidup dan operasional mitra pengemudi terus meningkat.
“Selama lebih dari tiga tahun terakhir, belum ada penyesuaian biaya jasa yang signifikan. Sementara di lapangan, mitra pengemudi menghadapi peningkatan biaya hidup dan operasional,” tutur dia.
“Kami percaya wacana ini perlu dikaji secara menyeluruh dan proporsional karena Grab menyadari, baik pengguna maupun mitra pengemudi, memiliki kebutuhan dan preferensi yang beragam,” jelas Tirza menambahkan.



