Konflik Iran-Israel Picu Gejolak Energi

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Harga minyak dunia melonjak tajam lebih dari 4 persen di tengah memanasnya konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Meski infrastruktur energi utama Iran sejauh ini belum terdampak serius, ketegangan yang kian meningkat tetap mengganggu stabilitas pasar global.

Penutupan perdagangan menunjukkan minyak mentah Brent naik sebesar US$ 3,22 atau 4,4 persen, hingga menyentuh level US$ 76,45 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat menguat US$ 3,07 atau 4,28 persen ke angka US$ 74,84 per barel.

- Advertisement -

Kenaikan ini terjadi di tengah laporan bahwa Iran terpaksa menghentikan sebagian operasional ladang gas South Pars—yang merupakan proyek bersama dengan Qatar—setelah lokasi tersebut dilaporkan terbakar akibat serangan udara dari Israel. Selain itu, fasilitas penyimpanan minyak di kawasan Shahran, Iran, turut menjadi sasaran serangan.

Konflik militer yang terus berlangsung antara kedua negara dinilai telah menciptakan kembali ketegangan geopolitik yang signifikan bagi pasar komoditas energi. “Situasi ini lebih dari sekadar insiden jangka pendek. Bisa saja berkembang menjadi krisis geopolitik berkepanjangan seperti yang kita lihat dalam konflik Rusia-Ukraina,” ujar Phil Flynn, analis senior dari Price Futures Group, dikutip Rabu (18/6/2025).

Analis lain, John Kilduff dari Again Capital, menyebut gejolak tersebut telah menambahkan premi risiko keamanan lebih dari US$ 10 per barel ke harga minyak saat ini. Ia menyebutkan, pelaku pasar kini dibayangi ketidakpastian soal arah kebijakan Iran jika pemerintahan negara itu berada dalam kondisi goyah.

- Advertisement -

Di sisi lain, meskipun ada ancaman gangguan pasokan, laporan terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) justru menunjukkan pasokan global masih tergolong tinggi. IEA memangkas proyeksi permintaan harian minyak dunia sebesar 20.000 barel, sembari merevisi estimasi peningkatan pasokan menjadi 1,8 juta barel per hari—naik 200.000 barel dari proyeksi sebelumnya.

Situasi ini menandai dilema baru bagi pasar energi: lonjakan harga karena faktor risiko geopolitik, namun tetap dihantui oleh kekhawatiran kelebihan pasokan di tengah permintaan yang diprediksi melemah.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Yusril Tegaskan Kasus Andrie Yunus Diadili di Peradilan Militer

JCCNetwork.id- Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa proses hukum kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER