Perang Dagang Meledak Lagi, China Resmi Tembakkan Tarif Balasan untuk AS

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia kembali memuncak. Pada Jumat (5/4/2025), Kementerian Keuangan China secara resmi mengumumkan bahwa mulai 10 April mendatang, Negeri Tirai Bambu akan memberlakukan tarif sebesar 34 persen terhadap seluruh barang impor asal Amerika Serikat. Langkah tegas ini merupakan balasan atas kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump yang lebih dulu menaikkan bea masuk terhadap produk China awal pekan ini.

China secara terbuka mengecam langkah sepihak Washington yang menurut mereka bertentangan dengan prinsip perdagangan internasional. “Tiongkok mendesak Amerika Serikat untuk segera membatalkan tindakan tarif sepihaknya dan menyelesaikan perbedaan perdagangan melalui konsultasi dengan cara yang setara, saling menghormati, dan saling menguntungkan,” demikian pernyataan resmi Kementerian Keuangan China seperti dikutip dari CNBC.

- Advertisement -

Kementerian itu juga mengkritik keras kenaikan tarif AS yang kini mencapai total 54 persen terhadap produk China.

Mereka menyebut kebijakan Trump sebagai “tindakan yang tidak konsisten dengan aturan perdagangan internasional” dan “sangat merugikan kepentingan China serta membahayakan pembangunan ekonomi global.” Tak hanya itu, China juga menuding langkah AS sebagai ancaman terhadap stabilitas produksi serta rantai pasokan dunia.

Sebagai bagian dari langkah balasan yang lebih luas, pemerintah China juga mengumumkan penambahan 11 perusahaan Amerika Serikat ke dalam daftar entitas tidak dapat diandalkan, yakni daftar hitam bisnis yang dinilai melanggar aturan pasar atau komitmen kontraktual.

- Advertisement -

Tidak berhenti di situ, Kementerian Perdagangan China turut menambahkan 16 entitas AS ke dalam daftar kontrol ekspor. Tujuh jenis barang terkait tanah jarang seperti samarium, gadolinium, dan terbium juga akan dikenai pembatasan ekspor—sinyal bahwa Beijing siap menggunakan kekuatan pasarnya dalam sektor-sektor strategis sebagai alat tawar dalam perang dagang.

Sebagai upaya hukum, China telah mengajukan gugatan resmi terhadap Amerika Serikat ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dalam rilis resminya, Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa tarif Washington melanggar aturan WTO, merusak hak dan kepentingan sah anggota organisasi, serta mengganggu tatanan perdagangan multilateral yang berbasis aturan. “Tindakan AS telah mengguncang fondasi sistem perdagangan internasional,” tegas pernyataan itu.

Sementara itu, Presiden Donald Trump seperti biasa menanggapi lewat platform media sosialnya, Truth Social. Dalam gaya khasnya, Trump menulis, “Tiongkok bermain salah, mereka panik – satu hal yang tidak dapat mereka lakukan!”

Ketegangan ini membawa kenangan lama atas perselisihan dagang selama masa jabatan pertama Trump yang juga sarat dengan perang tarif dan kebijakan proteksionis.

Beijing menegaskan bahwa mereka tak akan tinggal diam dan akan mengambil “tindakan balasan tegas” untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Di sisi lain, Uni Eropa dan sejumlah mitra dagang AS lainnya memilih menahan diri dari tindakan pembalasan, masih menaruh harapan pada jalur diplomasi dan negosiasi.

Menurut data dari Kantor Perwakilan Dagang AS, hubungan dagang AS-Tiongkok mencakup nilai transaksi hingga USD 582,4 miliar dalam bentuk barang sepanjang 2024. Perselisihan ini jelas menempatkan sebagian besar perdagangan global dalam kondisi tidak menentu.

Para analis memperkirakan, kebijakan perdagangan yang makin proteksionis dari AS akan mendorong China untuk mempererat hubungan dagangnya dengan mitra non-AS dan meningkatkan langkah-langkah stimulus ekonomi di dalam negeri. Pasalnya, China hingga kini masih berjuang keluar dari tekanan krisis properti dan lemahnya sentimen konsumen dan bisnis pascapandemi Covid-19.

Tarif balasan China ini turut memperparah kondisi pasar global yang sebelumnya telah terguncang oleh kekhawatiran inflasi, ancaman resesi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Perang dagang yang kembali memanas antara Washington dan Beijing bukan hanya menyulut ketegangan bilateral, tetapi juga mengirimkan gelombang ketidakpastian yang bisa memicu efek domino pada perekonomian global dalam beberapa bulan ke depan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Protes Memuncak di Samarinda Gegara Gaya Hidup dan Kebijakan Rudy Mas’ud

JCCNetwork.id- Aksi unjuk rasa mewarnai Kantor Gubernur Kalimantan Timur di Samarinda, Selasa (21/4/2026). Ratusan warga bersama mahasiswa turun ke jalan sebagai bentuk protes terhadap...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER