JCCNetwork.id-Rusia semakin serius mengembangkan ekonomi syariah dengan merancang bursa saham khusus bagi investor dari negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), termasuk Indonesia.
Langkah ini menjadi bagian dari eksperimen pembiayaan kemitraan yang terus diperluas di Federasi Rusia.
Kepala Badan Pengembangan Investasi Republik Tatarstan, Taliya Minullina, mengungkapkan bahwa parlemen Rusia berencana memperpanjang masa percobaan sistem pembiayaan syariah hingga musim gugur 2028.
Eksperimen ini sebelumnya telah diterapkan di empat wilayah Federasi Rusia dan mencakup berbagai transaksi berbasis syariah, termasuk asuransi bersama atas kepentingan properti.
“Volume operasi perbankan syariah tahun lalu meningkat lebih dari dua kali lipat. Percobaan ini berkembang dengan pesat dan seiring waktu dapat menjadi praktik permanen di kemudian hari.
Secara keseluruhan, jumlah investasi yang diharapkan dalam proyek-proyek Rusia melalui format pembiayaan Islam diperkirakan lebih dari 10 miliar dolar Amerikat Serikat (AS).
Dalam dua tahun ke depan, para ahli memperkirakan peningkatan yang lebih besar, yaitu sekitar sepuluh kali lipat di bidang ini,” tambah dia.
Pasar Saham Khusus OKI
Sebagai bagian dari inisiatif ini, Rusia akan membentuk bursa saham khusus untuk negara-negara OKI.
Langkah ini diharapkan mempermudah investor dari dunia Islam mengakses pasar Rusia serta menerbitkan instrumen keuangan berbasis syariah.
“Tujuan AAOIFI adalah untuk mempertahankan dan mempromosikan standar syariah lembaga keuangan Islam. Pada saat ini, pekerjaan tersebut semakin meningkat pesat di Rusia dan platform investasi yang sepenuhnya halal sudah dipersiapkan untuk diluncurkan. Ini akan mematuhi standar AAOIFI dan dikelola oleh para ahli keuangan Islam,” kata Taliya
Dalam mendukung pengembangan pasar keuangan Islam, Rusia telah mengintensifkan pelatihan spesialis keuangan sesuai standar Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) yang berbasis di Bahrain.
Selain itu, proyek ini mendapat dukungan dari dua sumber pendanaan Arab yang akan membiayai perusahaan rintisan di Rusia dan negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS).
Investor yang bergabung dijanjikan keuntungan berbasis prinsip syariah, serta peluang menerbitkan obligasi Islam (sukuk).
Platform ini tengah dalam proses pendaftaran, dengan peluncuran penuh dijadwalkan pada Mei 2025.
Konferensi Keuangan Islam di Rusia
Sebagai bagian dari pengembangan industri keuangan syariah, Rusia akan menggelar konferensi internasional pertama bertajuk “
“Keuangan dan Investasi Islam: Mempromosikan Pembangunan Berkelanjutan dan Kemitraan Global” dalam kerangka KazanForum 2025
Acara ini akan berlangsung dalam rangkaian KazanForum 2025 dan diharapkan menjadi momentum penting dalam menarik lebih banyak investasi dari negara-negara Islam.
Rusia sendiri mencatat transaksi perdagangan dengan negara-negara Islam mencapai 106 miliar dolar AS dalam sembilan bulan pertama 2024.
Dari jumlah tersebut, 5,9 miliar dolar AS berasal dari wilayah Tatarstan, yang menjadi pusat eksperimen keuangan syariah di Rusia.
Sekretaris Jenderal General Council for Islamic Banks and Financial Institutions (CIBAFI), Abdelilah Belatik, menilai bahwa penguatan ekonomi syariah di Rusia akan meningkatkan kerja sama ekonomi dengan negara-negara Selatan-Selatan.
“Selama dua hingga tiga tahun terakhir, tidak hanya angka perputaran perdagangan yang meningkat, tetapi juga jumlah transaksi antara Rusia dan negara-negara OKI. Pertama-tama adalah Turki, UEA (Uni Emirat Arab), negara-negara Teluk Persia, serta Malaysia dan Indonesia,” kata Sekretaris Jenderal General Council for Islamic Banks and Financial Institutions (CIBAFI) Abdelilah Belatik.
Beberapa bidang potensial kerja sama ekonomi syariah antara Rusia dan negara-negara Islam mencakup investasi bersama di sektor halal, pengembangan gaya hidup halal, serta kolaborasi di bidang kesehatan dan pendidikan.
“Jelaslah bahwa keuangan Islam juga akan diminati dalam hubungan dengan Rusia, di mana terdapat lebih dari 20 juta Muslim. Salah satu bidang kerja sama yang menjanjikan adalah perdagangan. Pada tahun 2025, penandatanganan perjanjian zona perdagangan bebas antara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) dan Indonesia diharapkan,” ucapnya.



