BIN Harus Lebih ‘Humanis’ Karena Papua Butuh Sentuhan, Bukan Senjata

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id– Direktur Eksekutif Human Studies Institute (HSI), Rasminto, menyatakan harapannya agar Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang baru dapat mengedepankan pendekatan humanis, sosial budaya, dan kesejahteraan masyarakat dalam menangani situasi di Papua.

Menurutnya, pendekatan ini sangat penting untuk menciptakan stabilitas dan kedamaian di wilayah yang kerap mengalami gejolak dan konflik.

- Advertisement -

“Kami berharap Kepala BIN yang baru, Letjen TNI (Purn.) M. Herindra dapat memperkuat pendekatan yang lebih berfokus pada aspek-aspek humanis dan kesejahteraan masyarakat Papua, bukan hanya melalui pendekatan keamanan semata,” ujarnya.

Baginya, pendekatan humanis melalui sosial-budaya akan menciptakan solusi jangka panjang bagi Papua.

“Langkah ini akan lebih efektif dalam menciptakan solusi jangka panjang untuk Papua, sebagaimana terlihat dari keberhasilan operasi pembebasan Capt Phillips, pilot Susi Air yang disandera kelompok separatis di wilayah Papua beberapa waktu lalu”, tandasnya.

- Advertisement -

Rasminto menilai, keberhasilan pembebasan Capt Phillips merupakan contoh nyata dari bagaimana kerja sama yang mengedepankan sisi kemanusiaan dan sosial budaya dapat memberikan hasil positif tanpa menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

“Pendekatan model seperti inilah yang seharusnya menjadi dasar dalam setiap operasi di Papua”, jelasnya.

Ia mengungkapkan, pendekatan sosial budaya dan kesejahteraan merupakan kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat Papua.

“Pendekatan yang memprioritaskan pemahaman atas kondisi sosial budaya setempat, dan pengembangan kesejahteraan masyarakat adalah kunci dalam membangun kepercayaan dengan masyarakat Papua”, ungkapnya.

Ia menegaskan, agar program-program yang telah berjalan positif sebagai bentuk pendekatan yang humanis dapat terus dilanjutkan seperti pembangunan asrama mahasiswa Nusantara (AMN).

“Adanya Asrama AMN ini bisa dijadikan sebagai wadah mempersatukan mahasiswa asli Papua dengan berbagai mahasiswa lainnya dari berbagai suku bangsa, bahasa, kebudayaan dan agama berbagai daerah Indonesia dsn dari berbagai perguruan tinggi. Sehingga ini juga jadi contoh positif untuk dilanjutkan dan diperkuat”, tegasnya.

Lebih lanjut, pakar geografi politik Universitas Islam 45 (UNISMA) ini berharap agar pemerintah juga memperkuat program-program yang mendukung pembangunan ekonomi dan pendidikan di Papua.

“Keberhasilan di Papua tidak hanya diukur dari aspek keamanan semata, tetapi juga dari peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat,” tutupnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Harga Emas di Pegadaian Turun Serentak Hari Ini

JCCNetwork.id- Harga emas batangan yang dipasarkan oleh PT Pegadaian tercatat mengalami penurunan serentak pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Koreksi harga ini terjadi pada seluruh varian...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER