JCCNetwork.id – Krisis kemanusiaan di Gaza semakin meruncing, memaksa Israel untuk meningkatkan bantuan kepada warga sipil di wilayah tersebut. Menurut laporan media Israel, bantuan yang diterima baru mencapai 10 persen dari kebutuhan mendesak penduduk Gaza yang terdiri dari lebih dari dua juta orang.
Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa separuh penduduk Gaza tengah menghadapi kelaparan parah atau bahkan ekstrem. Bahkan, 90 persen dari warga Gaza harus bertahan tanpa makanan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun 190 truk masuk setiap hari dengan izin Israel, bantuan yang diberikan masih jauh dari mencukupi.
“190 truk yang memasuki Gaza setiap hari dengan persetujuan Israel hanya menyediakan sekitar 10 persen dari kebutuhan warga Gaza,” tulis Haaretz.
Haaretz juga mencatat bahwa media Israel cenderung menutup-nutupi realitas kehancuran, kematian, dan bencana kemanusiaan di Jalur Gaza akibat perang yang terus berlanjut. Warga Gaza terus menghadapi krisis kesehatan dan kemanusiaan yang parah, dengan sekitar 1,4 juta orang di antara 2,3 juta warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Blokade yang ketat oleh Israel semakin memperparah krisis ini, dengan pembatasan akses terhadap makanan, air, obat-obatan, dan listrik. Bantuan internasional yang masuk terus terhambat oleh blokade tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) melaporkan bahwa 80 persen warga Palestina di Gaza kini bergantung pada bantuan internasional.
Dalam 24 jam terakhir, pasukan Israel melanjutkan serangan intensif di Jalur Gaza, menyebabkan setidaknya 150 warga Palestina tewas dan 286 lainnya terluka. Sejak 7 Oktober, jumlah korban akibat serangan tentara Israel mencapai 21.822 orang meninggal dan 56.451 orang luka-luka. Situasi di Gaza semakin memprihatinkan, membutuhkan perhatian dan tindakan mendesak dari komunitas internasional untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina.














