JCCNetwork.id- Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Kamis waktu setempat. Pelemahan terjadi pada dua acuan utama minyak global, yakni West Texas Intermediate (WTI) dan Brent, di tengah dinamika pasar energi internasional.
Berdasarkan laporan Xinhua yang dikutip pada Jumat (30/10/2026), harga minyak mentah WTI untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup turun 78 sen atau 0,76 persen. Penurunan tersebut membawa harga WTI ke level USD102,00 per barel di New York Mercantile Exchange (NYMEX).
Pelemahan juga terjadi pada minyak mentah Brent yang menjadi salah satu acuan harga minyak internasional. Kontrak pengiriman Desember tercatat turun 44 sen atau 0,38 persen menjadi USD114,88 per barel di London ICE Futures Exchange.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kedua patokan utama minyak dunia sama-sama berada di zona negatif pada akhir perdagangan. Meski demikian, harga WTI dan Brent masih bertahan di atas level USD100 per barel.
Di tengah penurunan harga komoditas energi tersebut, pasar keuangan Amerika Serikat (AS) juga mencatatkan kinerja negatif. Tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat.
Tekanan terhadap bursa saham AS terutama dipengaruhi oleh kembali munculnya kekhawatiran investor mengenai besarnya kebutuhan biaya investasi untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kekhawatiran tersebut mencuat setelah Alphabet menjadi perhatian pelaku pasar terkait pengeluaran investasi di sektor AI. Kondisi ini turut memengaruhi sentimen investor, khususnya terhadap saham-saham perusahaan teknologi.
Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat mengalami penurunan sebesar 132,54 poin atau 0,25 persen. Dengan pelemahan tersebut, indeks yang mencerminkan pergerakan saham perusahaan-perusahaan besar AS itu berakhir di posisi 52.342,56.
Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 23,59 poin atau 0,3 persen ke level 7.720,39. Penurunan lebih besar terjadi pada Nasdaq Composite yang dikenal memiliki konsentrasi saham teknologi cukup tinggi.
Nasdaq Composite kehilangan 365,13 poin atau setara 1,38 persen sehingga ditutup pada posisi 26.184,72.
Jika dibandingkan dengan dua indeks lainnya, Nasdaq mencatatkan koreksi paling dalam. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pasar pada perdagangan kali ini lebih banyak tertuju pada sektor teknologi dibandingkan keseluruhan saham yang diperdagangkan di Wall Street.
Meskipun ketiga indeks utama mengalami pelemahan, pergerakan sektor dalam indeks S&P 500 menunjukkan kondisi yang tidak sepenuhnya negatif. Sebanyak delapan dari 11 sektor utama justru berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelemahan bursa saham AS tidak terjadi secara merata di seluruh sektor. Penurunan lebih terkonsentrasi pada saham-saham teknologi yang terdampak kekhawatiran investor terhadap besarnya anggaran pengembangan dan investasi kecerdasan buatan.
Perkembangan di pasar minyak dan bursa saham tersebut menjadi gambaran dinamika perdagangan global pada Kamis. Harga minyak mentah melemah pada saat pasar saham AS menghadapi tekanan, terutama akibat meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek pengeluaran perusahaan teknologi untuk pengembangan AI.
























