JCCNetwork.id- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Oksibil, Papua Pegunungan, pada Kamis (29/10/2026) pagi. Berdasarkan hasil pemutakhiran analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di darat dengan kedalaman 42 kilometer dan dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Gempa bumi tersebut tercatat terjadi pada pukul 10.26 WIB. Pada laporan awal, kekuatan gempa mencapai magnitudo 6,0. Namun, setelah dilakukan analisis lebih lanjut, BMKG memperbarui parameter kekuatan gempa menjadi magnitudo 5,9.
Lokasi episenter gempa berada di daratan, sekitar 171 kilometer tenggara Oksibil, Papua Pegunungan, dengan kawasan Kiunga, Papua Nugini, turut disebut dalam keterangan mengenai lokasi kejadian.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa hasil pemodelan yang dilakukan lembaganya menunjukkan gempa tersebut tidak memiliki potensi tsunami.
“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ungkap Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam keterangan tertulisnya.
Kepastian tersebut menjadi salah satu informasi penting yang disampaikan BMKG menyusul terjadinya gempa di wilayah Papua Pegunungan. Meski demikian, masyarakat tetap diminta memperhatikan informasi resmi dari otoritas terkait dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi.
Gempa Dipicu Aktivitas Sesar Aktif
Berdasarkan posisi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG mengidentifikasi gempa tersebut sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.
Analisis terhadap mekanisme sumber gempa juga menunjukkan adanya pergerakan sesar geser atau strike-slip. Mekanisme ini terjadi ketika dua blok batuan bergerak secara mendatar dengan arah yang berlawanan atau berbeda di sepanjang bidang patahan.
Aktivitas sesar aktif merupakan salah satu faktor yang dapat memicu gempa bumi di suatu wilayah. Dalam kejadian kali ini, hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa sumber gempa berkaitan dengan pergerakan pada sesar tersebut.
Kedalaman gempa yang tercatat mencapai 42 kilometer menjadi bagian dari parameter yang digunakan BMKG untuk menganalisis karakteristik kejadian serta memperkirakan dampaknya terhadap wilayah di sekitar pusat gempa.
Getaran Dirasakan di Sejumlah Wilayah
Dampak getaran gempa dilaporkan dirasakan masyarakat di beberapa daerah, termasuk Boven Digoel, Kota Jayapura, dan Merauke.
Berdasarkan laporan yang diterima BMKG, wilayah Boven Digoel mengalami getaran dengan skala intensitas III MMI. Pada tingkat tersebut, getaran dapat dirasakan secara nyata di dalam rumah dan oleh sebagian orang digambarkan menyerupai getaran yang ditimbulkan oleh truk yang melintas.
Sementara itu, di Kota Jayapura dan Merauke, gempa dirasakan dengan intensitas II MMI. Pada skala ini, getaran umumnya hanya dirasakan oleh beberapa orang, sedangkan benda-benda ringan yang digantung dapat terlihat bergoyang.
Skala Modified Mercalli Intensity (MMI) digunakan untuk menggambarkan tingkat guncangan berdasarkan dampak yang dirasakan masyarakat serta kondisi benda atau bangunan di suatu lokasi.
Perbedaan tingkat intensitas yang dilaporkan di sejumlah daerah menunjukkan bahwa dampak getaran dapat bervariasi, bergantung pada jarak dari sumber gempa dan kondisi setempat.
BMKG Terus Pantau Gempa Susulan
BMKG menyatakan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas seismik setelah gempa utama terjadi. Berdasarkan hasil monitoring hingga pukul 10.55 WIB, belum terdeteksi adanya aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas gempa setelah kejadian utama sekaligus menjadi dasar dalam penyampaian informasi terbaru kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Wijayanto mengatakan BMKG akan terus memonitor kemungkinan terjadinya gempa susulan serta menyampaikan pembaruan informasi sesuai dengan hasil pengamatan yang tersedia.
Langkah pemantauan ini penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat mengenai kondisi terkini setelah gempa, termasuk apabila terdapat perubahan parameter atau perkembangan aktivitas seismik di wilayah terdampak.
Masyarakat Diminta Tetap Tenang
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang sumber maupun kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Imbauan kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujarnya.
Masyarakat juga diharapkan mengikuti perkembangan informasi gempa bumi melalui kanal resmi BMKG serta tidak menyebarkan kabar yang belum terkonfirmasi.
Dengan tidak adanya potensi tsunami berdasarkan hasil pemodelan BMKG dan belum terdeteksinya gempa susulan hingga waktu pemantauan yang dilaporkan, masyarakat diminta tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan.
BMKG menegaskan pemantauan akan terus dilakukan untuk mengikuti perkembangan kondisi kegempaan di wilayah Papua Pegunungan dan sekitarnya. Informasi lanjutan akan disampaikan apabila terdapat perkembangan yang perlu diketahui masyarakat.
























