Investor Tunggu The Fed, Harga Emas Stabil

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Pergerakan harga emas dunia cenderung stabil pada perdagangan Rabu (17/6/2026) waktu Amerika Serikat di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Pasar saat ini memusatkan perhatian pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), termasuk keputusan suku bunga acuan serta proyeksi ekonomi terbaru yang akan menjadi acuan arah kebijakan moneter Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang.

- Advertisement -

Data perdagangan menunjukkan harga emas spot naik 0,3 persen menjadi US$4.343,77 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 0,2 persen ke level US$4.361,60 per troy ons.

“Suku bunga AS diperkirakan akan tetap tidak berubah, tetapi fokus sebenarnya akan tertuju pada Kevin Warsh. Sedikit saja indikasi sikap hawkish dapat menekan harga emas yang tetap sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga,” ujar Otunuga.

Analis FXTM, Lukman Otunuga, menilai mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

- Advertisement -

Namun, perhatian investor lebih tertuju pada pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dinilai dapat memberikan sinyal terkait langkah kebijakan berikutnya.

“Berdasarkan grafik, harga mungkin akan naik lebih tinggi menuju US$ 4.350 jika US$ 4.300 terbukti menjadi level support yang andal. Pelemahan di bawah US$ 4.300 dapat memicu aksi jual kembali menuju area support US$ 4.250-US$ 4.200 per ons,” katanya.

Menurutnya, pernyataan yang bernada lebih agresif terhadap inflasi berpotensi menekan harga emas karena meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Kondisi tersebut dapat mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.

Dari sisi teknikal, Otunuga menilai tren penguatan emas masih terbuka selama harga mampu bertahan di atas level support US$4.300 per ons.

Jika level tersebut terjaga, harga berpotensi bergerak menuju kisaran US$4.350 per ons.

Sebaliknya, penurunan di bawah area support dapat memicu koreksi menuju rentang US$4.250 hingga US$4.200 per ons.

Selain kebijakan moneter, perkembangan geopolitik turut menjadi perhatian investor.

Pasar mencermati dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah muncul kerangka kesepakatan damai yang diharapkan dapat meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan proses perundingan belum mencapai tahap final.

Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar tetap mempertimbangkan risiko geopolitik yang dapat memengaruhi permintaan terhadap aset aman seperti emas.

Sementara itu, sejumlah lembaga keuangan mulai memperbarui proyeksi harga logam mulia untuk jangka menengah.

Ekonom Intesa Sanpaolo, Daniela Corsini, memperkirakan harga emas berpotensi mengalami fase penyesuaian setelah mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam skenario dasar yang disusunnya, harga emas diperkirakan bergerak di kisaran rata-rata US$4.000 per ons pada akhir 2026.

“Harga emas dan perak bisa mencapai titik terendah siklus antara akhir tahun 2026 dan awal tahun 2027. Dalam skenario dasar kami, emas bisa diperdagangkan rata-rata sekitar US$ 4.000 per ons pada akhir tahun, sementara perak bisa stabil di sekitar US$ 60,” ujar Corsini dalam catatannya.

Namun, dalam jangka pendek, arah pergerakan logam mulia tersebut masih akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed, perkembangan inflasi global, serta dinamika geopolitik internasional.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

DPR Dukung Kenaikan Tunjangan Guru

JCCNetwork.id- Kebijakan pemerintah menaikkan tunjangan bagi guru Aparatur Sipil Negara (ASN) dan non-ASN mendapat dukungan dari Komisi X DPR RI. Namun, di balik apresiasi...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER