Pohon Ajaib Ini Sembunyikan Bau Mayat

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Pernah nggak kamu membayangkan ada sebuah desa di Indonesia di mana orang meninggal tidak dikubur, dan tidak dibakar tapi justru dibiarkan begitu saja di alam terbuka?

Bukan di tempat tersembunyi. Bukan di ruang tertutup. Tapi di sebuah tempat di tepi Danau Batur, Bali, bernama Desa Terunyan.

- Advertisement -

Di sana, kematian tidak diperlakukan seperti sesuatu yang harus disembunyikan tapi justru bagian dari kehidupan yang dijalani dengan sangat tenang dan bahkan sakral.

Namun bayangkan dulu situasinya dari sudut pandang orang luar.

Saat seseorang meninggal, tubuhnya tidak dikuburkan seperti kebanyakan tempat di dunia. Jenazah diletakkan di atas batu besar yang memiliki cekungan-cekungan khusus, di bawah sebuah pohon yang dipercaya memiliki kekuatan luar biasa, pohon Taru Menyan. Pohon ini mengeluarkan aroma alami yang mampu “mengalahkan” bau pembusukan, sehingga area itu tetap terasa tidak menyengat.

- Advertisement -

Bagi banyak orang yang pertama kali mendengarnya, reaksi awalnya biasanya sama: “Kok bisa? Tidak bau?” Dan justru di situlah misterinya mulai terasa.

Di balik tradisi itu, masyarakat Terunyan punya aturan yang sangat detail tentang bagaimana seseorang dimakamkan. Tidak semua orang ditempatkan di lokasi yang sama. Ada tiga area pemakaman:

Yang pertama, untuk mereka yang meninggal secara wajar dan sudah menikah, ditempatkan di area khusus di bawah pohon sakral. Yang kedua, untuk kematian tidak wajar seperti kecelakaan atau kejadian tragis. Dan yang ketiga, untuk anak-anak atau mereka yang belum menikah.

Semua ini bukan sekadar aturan teknis. Bagi masyarakat Bali Aga di Terunyan, ini adalah cara mereka menjaga keseimbangan antara dunia manusia, alam, dan roh leluhur.

Tapi cerita di desa ini tidak berhenti di pemakaman saja. Ada satu tradisi lain yang bahkan lebih misterius: Barong Brutuk.

Bayangkan 21 pemuda yang harus “menghilang” dari kehidupan normal selama 42 hari. Mereka dikarantina di area pura, tidak boleh keluar, tidak boleh melakukan kebiasaan dunia luar, dan menjalani penyucian diri yang ketat. Tidak ada alkohol, tidak ada hubungan sosial bebas, bahkan banyak larangan yang membuat kehidupan mereka benar-benar terpisah dari dunia luar.

Lalu pada saat puncak upacara, mereka akan menampilkan Barong Brutuk, sebuah kesenian sakral yang bukan sekadar pertunjukan, tapi dianggap sebagai perwujudan spiritual dari leluhur dan simbol keseimbangan hidup.

Semua itu hanya dilakukan pada upacara tertentu di pura utama desa, saat bulan purnama dalam kalender Bali. Kalau kamu mulai merasa bahwa Desa Terunyan ini seperti dunia yang berbeda… kamu tidak salah.

Karena di sini, kematian, kehidupan, alam, dan spiritualitas tidak dipisahkan. Semuanya menyatu dalam satu harmoni yang sudah dijaga ratusan tahun oleh masyarakat Bali Aga.

Dan mungkin pertanyaannya bukan lagi “kenapa mereka melakukan itu?”
Tapi justru: apa yang bisa kita pelajari dari cara mereka memandang hidup dan kematian?

Sekarang aku penasaran. Kalau kamu berada langsung di Desa Terunyan, kamu lebih merasa takjub, atau justru merinding?

- Advertisement -

BACA LAINNYA

TNI AU Siapkan Skadron Rafale

JCCNetwork.id — TNI Angkatan Udara (TNI AU) memastikan proses pelatihan calon penerbang pesawat tempur Rafale terus berjalan sebagai bagian dari persiapan operasional armada jet...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER