Siapa Sebenarnya Purbaya?

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Pernah nggak sih kamu membayangkan ada seorang pejabat tinggi negara yang tiba-tiba ditunjuk jadi Menteri Keuangan dan reaksinya justru mengira dirinya sedang “dikerjai” padahal memang benaran jadi pejabat. Kedengarannya seperti cerita film, tapi ini nyata. Ini adalah kisah perjalanan Purbaya Yudhi Sadewa, sosok yang menjadi Menteri Keuangan.

Tapi hidup sering kali berbelok di luar rencana. Setelah lulus, ia mengubah arah. Dari teknik ke ekonomi. Sebuah keputusan besar yang mungkin juga pernah kamu rasakan ketika harus memilih jalan baru yang penuh ketidakpastian. Ia melanjutkan studi hingga ke Amerika Serikat, di Purdue University, dan meraih gelar PhD di bidang ekonomi. Dari sini, satu hal mulai terlihat: ini bukan sekadar perjalanan karier ini adalah transformasi.

- Advertisement -

Namun, hidup bukan hanya soal gelar dan jabatan. Di balik sosok intelektual ini, ada cerita yang justru membuat banyak orang merasa dekat. Ia menikah dengan Ida Yulidina figur publik yang dikenal sejak ajang Wajah Femina. Tapi yang menarik perhatian bukan glamornya melainkan kesederhanaannya.

Di tengah jabatan tinggi, Purbaya dan keluarganya masih terlihat naik bajaj, makan di kaki lima. Hal-hal sederhana yang justru terasa “langka” bagi pejabat negara. Bagaimana seseorang bisa berada di lingkaran elit kekuasaan, tapi tetap mempertahankan gaya hidup yang membumi?

Kariernya pun tidak instan. Dari seorang Field Engineer di Schlumberger, ia masuk ke dunia ekonomi sebagai analis, lalu naik menjadi Chief Economist, hingga memimpin perusahaan sekuritas. Perlahan tapi pasti, ia membangun reputasi bukan dari panggung politik, tapi dari pemikiran dan kerja keras.

- Advertisement -

Masuk ke pemerintahan, ia tidak langsung berada di puncak. Ia berpindah-pindah posisi, dari staf khusus hingga deputi di berbagai kementerian. Dan mungkin, di titik ini, banyak orang akan menyerah. Karena jalannya panjang. Tidak instan. Tidak selalu terlihat.

Lalu… klimaks itu datang. Tanggal 8 September 2025. Namanya diumumkan sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani Indrawati di era Presiden Prabowo Subianto. Reaksinya? Ia mengaku terkejut bahkan sempat mengira dirinya sedang dikerjai. Di titik ini, ceritanya berubah drastis. Dari seorang teknokrat menjadi pusat perhatian nasional.

Namun tantangan sebenarnya baru dimulai. Dalam rapat dengan DPR, ia tampil blak-blakan. Bahkan sempat bercanda bahwa dulu ia bisa bicara “seperti koboi”, tapi kini harus lebih hati-hati.

Ia menghadapi kritik, tekanan, dan ekspektasi besar mulai dari target pertumbuhan ekonomi hingga utang negara triliunan rupiah. Dan satu pernyataannya membuat banyak orang terdiam: “Kalau tiga ribu triliun bisa diselewengkan, masa utang 1.300 triliun tidak bisa dibayar?” Berani. Kontroversial. Tapi juga menunjukkan kepercayaan diri.

Tak berhenti di situ, ia membuat kebijakan besar: menggelontorkan Rp 200 triliun ke perbankan untuk mendorong ekonomi. Pasar saham merespons positif. Tapi kritik juga datang risiko inflasi, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian ekonomi membayangi. Di sinilah titik paling menegangkan: Apakah keberanian ini akan jadi solusi atau justru bumerang?

Menariknya, belum genap lama menjabat, namanya sudah masuk bursa calon presiden 2029. Saat ditanya, jawabannya santai tapi tegas kepada awak media: “Baru sebulan kerja, gila lu.” Respons yang jujur dan sangat manusiawi.

Pada akhirnya, kisah Purbaya bukan hanya tentang jabatan. Ini tentang perubahan arah hidup. Tentang keberanian mengambil keputusan. Dan tentang tetap menjadi diri sendiri bahkan saat berada di puncak kekuasaan. Ia membawa pendekatan ekonomi yang berbeda: bahwa keberhasilan negara bukan sekadar angka tapi bagaimana kebijakan benar-benar dirasakan rakyat.

Sekarang pertanyaannya buat kamu. Menurut kamu, gaya kepemimpinan seperti ini yang blak-blakan, berani, dan “anti-formalitas” apakah cocok untuk mengelola keuangan negara? Atau justru terlalu berisiko?

 

- Advertisement -

BACA LAINNYA

RSUD Bekasi Tangani Korban Insiden Kereta Timur

JCCNetwork.id-Lima hari setelah insiden tabrakan kereta di kawasan Stasiun Bekasi Timur, sebanyak 16 korban masih menjalani perawatan intensif di RSUD Kota Bekasi, Jumat (1/5/2026). "(Untuk...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER