Cegah Virus Nipah, Soetta Perketat Pengawasan Karantina

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Banten memperketat pengawasan lalu lintas hewan dan tumbuhan dari India yang masuk melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan dini terhadap potensi masuknya virus Nipah ke wilayah Indonesia.

Kepala BKHIT Banten, Duma Sari Margaretha Harianja, menegaskan bahwa pihaknya telah memberlakukan larangan masuk terhadap jenis hewan tertentu yang dinilai berisiko tinggi membawa virus tersebut. Hewan seperti kelelawar dan babi dari India tidak diperkenankan masuk ke Indonesia mengingat negara tersebut tengah mengalami wabah virus Nipah.

- Advertisement -

“Untuk dari negara yang sedang outbreak, India, kita sudah melarang hewan-hewan masuk ke Indonesia berupa kelelawar dan babi,” ujar Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Banten, Duma Sari Margaretha Harianja, Rabu, 4 Februari 2026.

Tidak hanya terhadap hewan, pengawasan juga diperluas pada pemasukan tumbuhan dari negara terdampak. Menurut Duma, peningkatan kewaspadaan dilakukan secara menyeluruh untuk meminimalkan potensi penularan penyakit lintas negara, baik melalui media hewan maupun tumbuhan.

Sebagai bagian dari penguatan sistem pengamanan, BKHIT Banten juga menerapkan prosedur biosekuriti yang ketat, termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh seluruh petugas karantina. Langkah ini bertujuan melindungi petugas sekaligus mencegah potensi penyebaran penyakit selama proses pemeriksaan.

- Advertisement -

“Kami juga menerapkan biosecurity dan penggunaan alat pelindung diri dalam setiap pelaksanaan tindakan karantina, guna menjaga resiko penularan yang ada pada petugas,” jelas Duma.

Duma menambahkan, strategi pengawasan difokuskan pada titik-titik kedatangan internasional di Bandara Soekarno-Hatta. Penguatan ini didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana, serta kerja sama lintas sektor dengan Balai Karantina Kesehatan Manusia.

“Alat-alat sudah ada, kita telah kerja sama dengan Balai Karantina Kesehatan Manusia. Jadi kita ini fokus di hewannya, walaupun sifatnya ini geonosis, artinya bisa dari manusia ke hewan dan hewan ke manusia,” kata Duma.

Selain pemeriksaan fisik, pengawasan juga dilakukan melalui sistem digital. BKHIT Banten memanfaatkan aplikasi All Indonesia yang mewajibkan penumpang mengisi data sebelum tiba di Tanah Air, termasuk informasi barang bawaan.

“Usai diisi aplikasi tersebut, pihaknya bisa mengetahui tiap penumpang dengan membawa hewan yang bergejala penyakit tersebut,” ungkap Duma.

Dengan langkah-langkah tersebut, BKHIT Banten berharap potensi masuknya virus Nipah maupun penyakit menular lainnya ke Indonesia dapat dicegah sejak pintu masuk internasional, demi menjaga kesehatan masyarakat dan keamanan hayati nasional.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Batik Air Resmi Terbang Jakarta–Muara Bungo

JCCNetwork.id- Konektivitas udara di Provinsi Jambi kembali diperkuat dengan beroperasinya penerbangan langsung Batik Air yang melayani rute Jakarta–Muara Bungo. Penerbangan perdana tersebut resmi dilaksanakan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER