JCCNetwork.id-Seluruh jajaran Komite Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) resmi mengundurkan diri pada Rabu (28/1/2025).
Keputusan ini diambil di tengah tekanan internasional terkait kasus penggunaan dokumen palsu dalam proses naturalisasi pemain saat kualifikasi Piala Asia.
“Pengunduran diri ini untuk melindungi reputasi dan kepentingan institusional (asosiasi) dan untuk mengurangi risiko konsekuensi buruk lebih lanjut yang dapat memengaruhi sepak bola Malaysia secara keseluruhan,” kata pelaksana tugas presiden Yusoff Mahadi kepada wartawan.
Pelaksana tugas Presiden FAM, Yusoff Mahadi, menyatakan bahwa pengunduran diri tersebut dilakukan demi menjaga nama baik institusi dan meminimalkan dampak lanjutan terhadap sepak bola Malaysia.
Menurutnya, langkah itu diperlukan agar proses evaluasi dapat berjalan tanpa hambatan.
Kasus ini bermula setelah FIFA menjatuhkan sanksi pada September lalu berupa larangan bermain selama satu tahun kepada tujuh pemain kelahiran luar negeri.
Selain itu, FIFA juga mengenakan denda sebesar 400 ribu dolar AS kepada FAM atas pelanggaran penyerahan dokumen yang dinilai tidak sah, yang mengklaim para pemain memiliki garis keturunan Malaysia.
Penyelidikan dilakukan FIFA setelah menerima laporan menyusul kekalahan telak Malaysia 0-4 dari Vietnam dalam laga kualifikasi Piala Asia pada Juni 2024.
Hasil investigasi menyimpulkan adanya pelanggaran serius dalam proses administrasi pemain.
Upaya banding yang diajukan FAM atas sanksi tersebut ditolak oleh komite FIFA.
Dalam laporannya, FIFA menilai FAM tidak menunjukkan langkah disipliner yang tegas, sekaligus menyoroti lemahnya tata kelola organisasi.
FIFA pun memerintahkan dilakukan penyelidikan menyeluruh terhadap sistem administrasi dan kepemimpinan FAM.
“Pengunduran diri pada Rabu akan memberikan ruang yang tepat bagi FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia untuk secara independen menilai, meninjau, dan, jika perlu, menangani masalah tata kelola, administrasi, dan prosedur di dalam FAM”, kata Yusoff.
Saat ini, FAM masih mengajukan banding lanjutan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss, dan proses hukum tersebut masih berjalan.
Yusoff menegaskan bahwa mundurnya seluruh komite eksekutif diharapkan memberi ruang bagi FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) untuk melakukan penilaian independen terhadap tata kelola, administrasi, dan prosedur yang diterapkan FAM.



