JCCNetwork.id- Hasil autopsi terhadap jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, mengonfirmasi bahwa kematiannya disebabkan oleh benturan keras akibat terjatuh di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Temuan ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Forensik RS Bali Mandara, Ida Bagus Putu Alit, dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat, 22 Juni 2025.
Menurut dr. Alit, luka paling fatal yang dialami Juliana terdapat di bagian dada belakang, yang menyebabkan kerusakan serius pada organ-organ vital, khususnya organ pernapasan.
“Jadi kalau kita lihat yang paling terparah, itu adalah yang berhubungan dengan pernapasan. Yaitu ada luka-luka terutama di dada-dada, terutama di dada-dada bagian belakang tubuhnya. Itu yang merusak organ-organ di dalamnya,” katanya dalam konferensi pers, Jumat (22/6).
Selain luka dada, tim forensik juga menemukan sejumlah luka lecet geser yang tersebar di seluruh tubuh korban, mulai dari bagian punggung hingga anggota gerak atas dan bawah. Luka pada kepala juga teridentifikasi, memperkuat dugaan bahwa korban mengalami benturan hebat dalam peristiwa jatuh tersebut.
Alit memperkirakan waktu kematian terjadi relatif cepat setelah insiden jatuh, yaitu sekitar 20 menit pascakecelakaan.
“Jadi kalau kita perkirakan paling lama 20 menit. Tidak ada bukti yang kita dapatkan bahwa korban ini meninggal dalam waktu yang lama dari lukanya,” imbuhnya.
Tim medis memastikan bahwa kematian Juliana bukan disebabkan oleh kondisi lingkungan ekstrem seperti hipotermia, yang kerap menjadi risiko bagi pendaki gunung. Menurut Alit, tidak ditemukan tanda-tanda khas hipotermia pada tubuh korban.
“Tanda-tanda adanya hipotermia itu luka-luka yang ditimbulkan dari hipotermia tidak ada. Jadi luka-luka yang ditimbulkan oleh hipotermia itu adalah luka pada ujung-ujung jari. Jadi lukanya berwarna hitam, ini tidak ada luka. Berarti bisa kita katakan bahwa tidak ada hipotermia,” ujarnya.
Autopsi juga mengungkap bahwa jumlah pendarahan di rongga tubuh korban sangat banyak, menegaskan bahwa kekerasan fisik akibat benturan adalah penyebab utama kematian.
“Kalau kita lihat penyebabnya yang langsung itu pasti kekerasan. Jadi kita juga melihat adanya pendarahan yang memang jumlahnya sudah begitu besar dalam rongga tubuhnya. Jadi yang menyebabkan langsung itu adalah kekerasannya, jadi benturannya,” ujarnya.
Juliana Marins dilaporkan tewas usai terjatuh saat melakukan pendakian di Gunung Rinjani, yang dikenal sebagai salah satu jalur pendakian paling menantang di Indonesia. Proses evakuasi korban sempat menjadi sorotan karena memakan waktu lama, yang kemudian menuai reaksi keras dari netizen, terutama dari komunitas pendaki dan warga Brasil.
Insiden ini tidak hanya menyita perhatian publik di dalam negeri, tetapi juga menjadi perbincangan luas di media sosial internasional. Banyak pihak mendesak adanya evaluasi terhadap prosedur keselamatan dan kecepatan evakuasi di jalur pendakian populer seperti Rinjani.
Pihak berwenang masih terus melakukan investigasi menyeluruh terkait kronologi kejadian dan prosedur penanganan pascakecelakaan, guna mencegah insiden serupa di masa mendatang.



