JCCNetwork.id-Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke level terendah dalam enam tahun terakhir.
Pada Selasa pagi (18/02/2025), rupiah tercatat melemah hingga Rp16.237 per dolar Amerika Serikat (USD), jauh dibandingkan rata-rata Rp13.901 per USD pada 2019.
Merosotnya rupiah ini menjadi perhatian serius pemerintah karena berpotensi mengancam stabilitas ekonomi nasional.
Jika tren pelemahan terus berlanjut, harga barang dan jasa impor akan semakin mahal, inflasi meningkat, dan daya beli masyarakat tergerus.
Penyebab Rupiah Terjun Bebas
Sejumlah faktor menjadi pemicu melemahnya nilai tukar rupiah, baik dari faktor eksternal maupun internal:
Penguatan Dolar AS
Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menerapkan kebijakan moneter ketat dengan menaikkan suku bunga sebesar 525 basis poin sejak Maret 2022 hingga Juli 2023.
Langkah ini menarik minat investor global terhadap aset berbasis dolar, sehingga modal asing keluar dari negara berkembang seperti Indonesia.
Ketidakpastian Ekonomi Global
Perang Rusia-Ukraina serta risiko resesi global membuat investor lebih memilih aset aman seperti dolar AS.
Lonjakan harga komoditas akibat ketegangan geopolitik turut memperburuk situasi, menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Defisit Transaksi Berjalan
Indonesia masih menghadapi defisit transaksi berjalan akibat impor barang dan jasa yang lebih besar dibandingkan ekspor.
Ketidakseimbangan ini meningkatkan permintaan terhadap dolar AS, yang pada akhirnya melemahkan rupiah.
Ketergantungan pada Impor
Ketergantungan tinggi terhadap bahan baku dan barang modal impor menyebabkan pelemahan rupiah semakin parah.
Fluktuasi nilai tukar ini turut berdampak pada kenaikan harga barang di dalam negeri, memicu inflasi.
Inflasi Domestik
Kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri menekan daya beli masyarakat serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia (BI) berupaya mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga, namun langkah ini juga berisiko menghambat investasi.
Strategi Mengatasi Pelemahan Rupiah
Pemerintah didesak untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional agar rupiah tidak terus tertekan.
Upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan daya saing ekspor, mengendalikan inflasi, serta menekan defisit transaksi berjalan.
Masyarakat juga dapat berperan dalam menjaga stabilitas rupiah dengan mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan antara lain membeli produk lokal, berwisata di dalam negeri untuk meningkatkan devisa, serta menggunakan transportasi umum guna mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM).
Jika pelemahan rupiah tidak segera diatasi, dampak ekonomi yang lebih besar bisa mengancam stabilitas nasional.
Pemerintah dan masyarakat harus bergerak cepat agar nilai tukar rupiah kembali stabil dan daya beli masyarakat tetap terjaga.



