Asal-usul Nama Cianjur

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Cianjur, sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Tauco, telah menginjak usia ke-347. Di balik kemegahannya, ada jejak sejarah panjang yang membentuk identitas wilayah ini. Nama Cianjur sendiri lahir dari perjalanan panjang, mitos, hingga peristiwa bersejarah yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh di masa lalu.

Menglansir dari berbagai sumber, sejarah nama Cianjur tak lepas dari kisah seorang utusan kerajaan bernama Aki Panyumpit dari Kerajaan Kertarahayu. Ia diperintahkan untuk mengantarkan putri kerajaan, Nyai Rambut Kasih, ke Pakuan Pajajaran. Namun, dalam perjalanannya, ia terhenti di sebuah sungai besar yang airnya deras. Dengan spontan, ia menyebut “Caina Anjur” yang dalam bahasa Sunda berarti “airnya deras”.

- Advertisement -

Sejak saat itu, daerah di sekitar sungai tersebut dikenal dengan nama Cianjur, yang akhirnya menjadi nama resmi kabupaten ini.

Lepas dari legenda, pembentukan Kabupaten Cianjur memiliki jejak sejarah yang lebih kuat. Sejarah mencatat bahwa Cianjur didirikan oleh Raden Aria Wira Tanu I, atau yang lebih dikenal sebagai Dalem Cikundul. Ia merupakan tokoh yang membuka peradaban awal di wilayah ini.

Putranya, Raden Wiramanggala atau Dalem Pamoyanan, kemudian melanjutkan perjalanan membuka lahan baru. Saat itu, seorang lelaki tua misterius memberikan petunjuk agar wilayah pusat pemerintahan dipindahkan ke sebelah selatan, tepat di lokasi tempat berkubangnya Badak Putih.

- Advertisement -

Legenda Badak Putih pun menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Cianjur. Lokasi tempat berkubang hewan tersebut kini dikenal sebagai Jalan Siti Jenab, yang berdekatan dengan Pendopo Kabupaten Cianjur.

Sebagian orang percaya bahwa Badak Putih yang dimaksud merupakan perumpamaan bagi orang Belanda. Namun, sejarawan meyakini bahwa badak itu benar-benar ada, sebelum akhirnya spesiesnya punah dan kini hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon.

Pembukaan Wilayah dan Asal-Usul Nama Daerah di Cianjur
Perjalanan Dalem Pamoyanan dalam membuka lahan pertama kali dimulai dari Kampung Muka. Nama “Muka” berasal dari bahasa Sunda yang berarti “membuka”. Dari sana, ia melanjutkan ke daerah Sayang Heulang, yang dahulu menjadi tempat berkembangnya burung elang.

Ia pun terus bergerak ke arah barat, menemukan daerah Panembong, yang dalam bahasa Sunda berarti “terlihat”. Dari sana, ia menyadari bahwa wilayahnya menurun ke arah timur, sesuai petunjuk yang diterimanya.

Perjalanannya berlanjut ke Selakopi, yang namanya diambil dari bunga kopi yang tumbuh di antara sela-sela pohon salak. Hingga akhirnya, ia sampai di tepian sungai besar, yang kini dikenal sebagai Sungai Cianjur.

Saat itulah, Dalem Pamoyanan duduk di tepian sungai dan menangis, mengingat petunjuk yang diberikan kepadanya. Air matanya jatuh ke sungai, mengukuhkan nama “Tjiandjoer”. Sejak saat itu, pusat pemerintahan pun resmi dipindahkan ke lokasi yang kini menjadi Pendopo Kabupaten Cianjur.

Kini, Cianjur berkembang menjadi kota yang dikenal dengan nilai religiusnya. Sebagai Kota Santri, Cianjur terus mempertahankan identitas budayanya yang kuat, sembari tetap berkembang mengikuti zaman.

Sejarah panjangnya menjadi bukti bahwa Cianjur bukan sekadar sebuah nama, tetapi juga hasil perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, mitos, dan legenda yang terus hidup dalam ingatan warganya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Relawan Global Sumud Dipindah ke Ketziot

JCCNetwork.id-Panitia Global Sumud Flotilla menyebut para aktivis dan jurnalis internasional yang ditahan Israel usai pencegatan misi kemanusiaan menuju Gaza kemungkinan akan dipindahkan ke Penjara...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER