JCCNetwork.id- Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Kamis pagi, dengan serangkaian erupsi yang tercatat dengan tinggi letusan antara 500 hingga 1.200 meter di atas puncaknya.
Erupsi pertama tercatat pada pukul 00.57 WIB, meskipun letusan tersebut tidak terlihat langsung, namun aktivitasnya terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 128 detik.
Erupsi kedua terjadi pada pukul 02.41 WIB, dengan hasil seismograf serupa, yaitu amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 157 detik, meski visual letusan juga tidak teramati.
Pada pukul 05.05 WIB, Gunung Semeru kembali erupsi dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter.
Kolom abu berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas tebal, bergerak ke arah barat daya. Erupsi tersebut tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 120 detik.
“Pada pukul 07.57 WIB, Gunung Semeru kembali erupsi dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Erupsi berikutnya terjadi pada pukul 07.57 WIB, dengan kolom abu yang kembali mencapai ketinggian sekitar 500 meter di atas puncak, dan bergerak ke arah barat daya.
Selang hampir satu jam, pada pukul 08.51 WIB, erupsi mencapai titik puncaknya dengan kolom abu teramati hingga 1.200 meter di atas puncak, atau 4.876 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang bergerak ke arah utara.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara. Saat laporan itu dibuat, erupsi masih berlangsung,” tuturnya.
Erupsi terakhir yang tercatat pada pukul 10.02 WIB, tidak teramati secara visual, namun terus terekam di seismograf, dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.
Liswanto, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, menegaskan bahwa gunung ini masih berstatus waspada.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi untuk mengurangi risiko bencana.
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh delapan kilometer dari puncak gunung.
Selain itu, PVMBG juga melarang aktivitas di sepanjang tepi sungai Besuk Kobokan dalam jarak 500 meter karena berpotensi terkena perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 13 kilometer dari puncak.
Warga juga diimbau untuk menghindari radius tiga kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena ancaman lontaran batu pijar.
“Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” katanya.
Bencana alam ini juga berpotensi menyebabkan awan panas, guguran lava, dan lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru, seperti di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Potensi lahar juga diwaspadai di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.



