Peneliti Sebut Target Jokowi Realistis Tapi Tidak Optimis

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Dalam pidato Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2025 beserta Nota Keuangannya di Depan Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (16/8), Presiden Joko Widodo (Jokowi) memaparkan beberapa asumsi ekonomi makro tahun 2025. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5,2%.

Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Putu Rusta Adijaya, mengatakan bahwa hal ini sebagai bentuk pertimbangan realistis, namun kurang optimis.

- Advertisement -

“Dalam beberapa kuartal di dua tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia di rentang 5%-an. BPS sudah keluarkan growth kita di kuartal-II 2024, yaitu 5,05% YoY. Nilai ini sama dengan growth kuartal-II 2019, serta tahun 2023. Target growth 5,2% di RAPBN 2025 yang disampaikan Presiden Jokowi ini adalah realistis karena tren, tapi terlihat kurang optimis. Padahal, bisa tumbuh lebih dari itu,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta (28/6/2024).

“Apakah pemerintahan selanjutnya bisa mencapai growth di atas 5%? Bisa, tapi memang sangat tidak mudah. Kerangka kerja ekonomi kita harus berani diubah. Akan mentok 5% jika mengandalkan “business as usual”. Pemerintah selanjutnya harus mau shift dari low-productivity sector ke sektor yang lebih berproduktivitas tinggi. Dengan kata lain, penting untuk mengembangkan economic complexity kita,” terang Putu.

Dengan mengembangkan economic complexity, seperti yang dilakukan Singapura, Thailand, dan Malaysia, Putu mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia setidaknya bisa mencapai target menuju Indonesia Emas 2045 dan bisa mengeluarkan Indonesia dari middle-income trap.

- Advertisement -

“Economic complexity ini juga melihat kecanggihan ekonomi. Indonesia masih jauh tertinggal oleh Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Kita juga sudah disalip oleh Vietnam di indeks economic complexity. Kenapa? Karena negara-negara ini sudah mampu shift ke high-productivity sector, terutama sektor manufaktur ke yang lebih berorientasi ekspor. Mereka tidak menggunakan ‘old playbook’, istilah Bank Dunia. Mereka berhasil shift ke more sophisticated economy. Kalau pemerintah selanjutnya mau dan kita bisa shift, cita-cita Indonesia Emas 2045 dan keluar dari middle-income trap adalah keniscayaan,” terangnya.

Dalam mengembangkan economic complexity, Putu mengatakan bahwa pemerintah harus dapat mengembangkan teknologi, inovasi, serta skills yang lebih produktif dan lebih berorientasi ke pengetahuan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

BMKG: Jakarta Berawan, Hujan Ringan Guyur Sejumlah Wilayah

JCCNetwork.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan kondisi cuaca di wilayah DKI Jakarta pada Sabtu (2/5/2026) didominasi awan tebal dengan potensi hujan berintensitas ringan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER