JCCNetwork.id- Antoinette Wiranadewi Ludi, seorang counselor yang mengabdikan dirinya di sebuah memorial park, memiliki kisah hidup yang memikat. Lahir pada 29 April 1962 di Jakarta, Antoinette telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di ibu kota. Latar belakangnya sebagai anak ketiga dari lima bersaudara membentuk fondasi kepeduliannya terhadap orang lain.
Pendidikan formalnya dimulai di SMA Tarakanita Puloraya, Jakarta, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Indonesia. Meskipun ayahnya bercita-cita melihatnya menjadi bagian dari Fakultas Kedokteran, Antoinette malah menemukan panggilan di bidang Matematika.
“Saat kecil, sering sekali bersama ayah, saya lewat Universitas Indonesia. Dan setiap kali melaluinya, Beliau mengatakan, “Nanti kamu sekolah di situ, ya”, sambil menunjuk gedung megah di sana,” kata Antoinette lulusan Fakultas MIPA, Universitas Indonesia itu.
Dari masa kecilnya, Antoinette telah menunjukkan minat yang kuat dalam seni. Di sekolah dasar, dia menemukan kegembiraan dalam menyanyi, menari, dan deklamasi. Meskipun menghadapi kesulitan dalam menggambar dan olahraga, dia terus mengejar hasratnya dalam seni dan literasi.
Minatnya dalam menulis, meskipun terhenti sejenak setelah lulus, kembali muncul ketika dia menemukan bahwa menulis adalah cara terbaik baginya untuk menyampaikan pikiran yang sulit diungkapkan secara lisan.
“Yang paling “mengerikan” buat saya adalah menggambar dan olah raga. Haduh, panas dingin lah,” tambah wanita kelahiran Jakarta, 29 April 1962 tersebut.
Menemukan Panggilan Unik
Setelah menyelesaikan pendidikannya dan banyak bekerja di berbagai sektor, Antoinette kemudian menemukan panggilan yang unik dalam bidang penjualan makam. Sejak tahun 2017, dia telah menjadi seorang counselor di sebuah memorial park.

Baginya, makam bukanlah tempat yang menyeramkan, melainkan tempat untuk mengenang orang-orang terkasih dan bersyukur atas kehidupan yang telah diberikan. Merawat kenangan melalui ziarah menjadi bagian dari tradisi yang dia tegakkan, termasuk dalam perayaan-perayaan seperti Jawa Nyadran dan Imlek.
Melalui pengalaman dan dedikasinya sebagai seorang counselor, Antoinette mencerminkan nilai-nilai humanis dan kepedulian yang mendalam. Dia tidak hanya membantu orang lain merawat kenangan, tetapi juga memberikan makna baru pada tempat peristirahatan terakhir mereka.
Dengan setiap cerita yang dia dengar dan setiap bimbingan yang dia berikan, Antoinette Wiranadewi Ludi membangun jembatan yang kuat antara masa lalu dan masa kini, membawa cahaya harapan bagi mereka yang ditinggalkan.


