Kisah Pilot Penembak Istana Negara, Lolos Hukuman Mati Jadi Pendeta Hingga Tutup Usia

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Daniel Alexander Maukar, seorang pilot Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), mencuri sorotan publik pada tahun 1960 silam. Kejadian tersebut terjadi ketika pria kelahiran 20 April 1932 itu, dengan pesawat tempurnya, menembaki Istana Negara pada tanggal 9 Maret 1960.

Daniel Maukar, yang dijuluki Tiger sebagai panggilan penerbangannya, merupakan seorang Letnan Dua di Angkatan Udara. Meskipun informasi pribadi tentangnya terbatas, diketahui bahwa ia adalah anak dari pasangan Karel Herman Maukar dan Enna Talumepa.

- Advertisement -

Keterlibatan Daniel dalam upaya pembunuhan Presiden Soekarno bermula dari hasutan seorang anggota Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), yaitu Sam Karundeng. Awalnya, Sam mengajak Daniel dan kakaknya, Herman, untuk berkonspirasi dalam sebuah misi yang disebut “Manguni”, yang merupakan bagian dari gerakan yang menuntut Pemerintah Republik Indonesia melakukan diplomasi bersama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta).

Permesta lahir dari kekecewaan rakyat terhadap ketidakmerataan pembangunan dan ekonomi antara pusat dan daerah. Awalnya, Daniel menolak ajakan Sam, tetapi dengan kepiawaian Sam dalam mengaitkannya dengan tujuan mencapai perdamaian nasional, Daniel akhirnya mengubah keputusannya.

Daniel mengajukan diri untuk menembaki Kompleks BPM di Tanjung Priok, Istana Negara, dan Istana Bogor. Alasannya, ia dijadwalkan untuk menerbangkan pesawat Mig-17 seorang diri pada tanggal 9 Maret 1960.

- Advertisement -

Pada hari yang ditentukan, sekitar pukul 12:10, tembakan kanon 23 mm dari pesawat MiG-17 F Fresco siap diluncurkan. Daniel mulai menembaki Kompleks BPM di Tanjung Priok, lalu melanjutkan ke Istana Negara, dan terakhir menuju Istana Bogor. Tujuan utama dari serangan ini adalah Presiden Soekarno.

Diampuni Presiden Seokarno dan Pilih Jadi Pendeta

Beruntung, Presiden Soekarno berhasil selamat karena pada hari itu Sang Proklamator tidak berada di dalam Istana Negara.

Setelah itu, Daniel melanjutkan penerbangan ke arah Garut untuk melakukan pendaratan darurat di tempat yang telah ditentukan, yang merupakan wilayah yang dikuasai DI/TII.

Sayangnya, bahan bakar pesawat tidak mencukupi untuk mencapai tujuan tersebut. Akhirnya, pesawatnya mendarat darurat di daerah persawahan Leles, Garut, Jawa Barat.

Akibat perbuatannya, Daniel Alexander Maukar dijatuhi hukuman mati. Konon, ketika berada di penjara, artis senior Rima Melati mencoba membujuknya agar meminta maaf kepada Soekarno. Namun, Daniel menolak tawaran tersebut. Ia tetap teguh dengan pendiriannya untuk menjunjung perdamaian nasional.

Bung Karno, ternyata tidak marah terhadap Daniel. Ia menghargai pemuda yang memiliki pendirian kuat ini. Akhirnya, keputusan hukuman mati pun dicabut. Soekarno berdalih bahwa ia tidak rela kehilangan seorang pemuda dengan masa depan yang cerah.

Namun, Daniel tetap harus menjalani hukuman penjara selama 8 tahun. Setelah bebas dari penjara, ia memilih untuk tidak lagi bergabung dengan AURI. Daniel memutuskan untuk pensiun dan mendedikasikan hidupnya sebagai seorang pendeta.

Daniel Alexander Maukar menjadi legenda di kalangan militer Indonesia, khususnya Angkatan Udara. Lantaran memiliki kemampuan di atas rata-rata pada masanya. Hal itu dibuktikan dengan kemampuannya mendaratkan pesawat secara darurat.

Daniel meninggal pada tanggal 16 April 2007, tepat 13 tahun yang lalu, di Rumah Sakit Cikini, Jakarta.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Lihat Persoalan Infrastruktur Secara Utuh, Jalan Randublatung-Cepu Rusak Akumulasi Masalah Bertahun-Tahun Bukan Semata Kinerja Gubernur Saat Ini

JCCNetwork.id-  Budayawan sekaligus pemerhati Jawa Tengah Budiyanto Hadinogoro menanggapi munculnya aksi protes warga di ruas jalan Randublatung–Cepu. Baginya publik juga perlu melihat persoalan ini...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER