Rupiah Melemah ke Rp17.694

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Lisa Umumkan EP Solo Terbaru

Ruben Onsu Terseret Kasus Investasi

Sarwendah Minta Peran Ruben

JCCNetwork.id — Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (15/9/2026).

Rupiah ditutup di level Rp17.694 per dolar AS, melemah 25 poin atau 0,14% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.669 per dolar AS.

- Advertisement -

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Asia Barat.

“Kelompok Houthi (Ansarullah) di Yaman melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9/2026), sembari memperkuat posisi mereka di titik-titik strategis di sepanjang Laut Merah,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Menurut Ibrahim, aktivitas kelompok Houthi atau Ansarullah di Yaman menjadi salah satu perhatian pasar.

- Advertisement -

Kelompok tersebut dilaporkan kembali menyerang Arab Saudi pada Senin (14/9/2026) dan memperkuat penguasaan di sejumlah lokasi strategis di sekitar Laut Merah.

Perkembangan itu dinilai meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran internasional.

Jika serangan terhadap kapal di kawasan Selat Bab al-Mandab meningkat, kelancaran distribusi minyak dari kawasan tersebut berpotensi ikut terganggu.

Risiko terhadap pasokan energi global juga muncul setelah operasional pipa minyak lintas negara rute timur-barat milik Arab Saudi dilaporkan terganggu pada pekan sebelumnya.

Ibrahim memperkirakan kondisi tersebut dapat berdampak terhadap sekitar 4%-5% pasokan minyak dunia.

Sentimen negatif bagi rupiah turut datang dari belum berlanjutnya pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

“Presiden AS Donald Trump pada hari Senin (14/9/2026) kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai. Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut dan menyatakan bahwa tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat mereka dipenuhi, terutama tuntutan agar AS mematuhi ketentuan gencatan senjata bulan Juni yang kini sudah tidak berlaku lagi,” ungkap Ibrahim.

Pertemuan yang melibatkan Oman, Iran, dan sejumlah negara Teluk untuk membahas jalur strategis tersebut dilaporkan mengalami penundaan.

Ketidakpastian juga meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan pada Senin (14/9/2026) bahwa Iran tengah mengupayakan kesepakatan damai.

Namun, pemerintah Iran membantah pernyataan tersebut dan menegaskan belum bersedia melakukan perundingan sebelum sejumlah persyaratan dipenuhi.

Dari Amerika Serikat, pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh data inflasi.

Indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) AS tercatat meningkat pada Agustus 2026.

Kenaikan inflasi tersebut mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS.

Probabilitas kenaikan suku bunga kini diperkirakan mencapai 89%, naik dari sekitar 59,4% pada pekan sebelumnya.

Di pasar domestik, pelemahan rupiah juga tercermin dari kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia.

Pada Selasa, Jisdor berada di level Rp17.687 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.635 per dolar AS.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Gempa Susulan Flores Capai 13.863 Kali

JCCNetwork.id- Aktivitas kegempaan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus terjadi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut. Badan Meteorologi,...

Ladang Ganja OPM Digerebek TNI

Iran Bersiap Hadapi Perang Besar

Rupiah ke Rp17.585, IHSG Tertekan

An Se-young Bawa 33 Kemenangan

Rupiah Melemah, IHSG Justru Menguat

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER